Logam Mulia Berpotensi Sentuh Rp2,9 Juta per Gram, Ini Faktor Pendorongnya
Kredit Foto: Istimewa
Harga logam mulia diperkirakan masih berpeluang melanjutkan penguatan dalam perdagangan pekan depan. Harga logam mulia bahkan disebut berpotensi menembus level Rp2,9 juta per gram apabila tekanan geopolitik global terus meningkat.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuiaibi, menyebut harga logam mulia saat ini bergerak cukup fluktuatif di tengah memanasnya situasi global, khususnya di Timur Tengah dan Eropa Timur.
"Logam mulianya kemungkinan besar ini akan mencapai di Rp2.900.000 per gram," kata Ibrahim kepada wartawan.
Meski berpotensi menguat, pasar juga membuka peluang koreksi. Harga emas logam mulia dapat berada di level terendahnya mencapai Rp2.750.000 per gram.
"Jadi pada saat logam mulia turun, kemungkinan besar di minggu depan itu di 2.750.000. Itu adalah minimal. Kemudian kalau seandainya menguat, maksimal itu di 2.900.000 per gram," ungkap dia.
Untuk diketahui, harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada perdagangan Minggu, 10 Mei 2026.
Terpantau harga yang mengacu pada data dari logammulia.com, harga emas Antam tetap diperdagangkan di level Rp2.839.000 per gram.
Posisi harga emas saat ini masih berada cukup jauh dari rekor tertingginya pada 29 Januari 2026 di mana sempat menyentuh Rp3.168.000 per gram.
Faktor Pendorong Harga Emas
Menurutnya, terdapat sejumlah faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga emas logam mulia. Salah satunya adalah ketegangan geopolitik yang hingga kini belum mereda.
Konflik di Timur Tengah, khususnya terkait ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz, disebut menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Selain itu, ancaman Rusia terhadap Ukraina dan negara-negara anggota NATO juga meningkatkan kekhawatiran investor global.
Kondisi tersebut membuat emas kembali dilirik sebagai aset safe haven di tengah tingginya ketidakpastian global.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari ini Tetap Tak Bergerak di Level Rp2.839.000 per Gram
Baca Juga: Konflik Iran-AS Jadi Pelajaran Baru Strategi Pertahanan Indonesia
Selain faktor geopolitik, arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat juga menjadi perhatian pasar. Data tenaga kerja Amerika Serikat yang masih cukup solid membuat pasar memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga dalam jangka pendek.
Namun apabila ketegangan global mulai mereda dan tekanan inflasi menurun, peluang penurunan suku bunga pada periode berikutnya dinilai dapat kembali mendorong minat investasi ke emas dan logam mulia.
Di sisi lain, permintaan emas dari bank sentral dunia juga dinilai menjadi penopang harga. Bank Sentral Tiongkok tercatat melakukan pembelian emas sekitar 7,15 ton pada kuartal pertama tahun ini.
Dengan tambahan tersebut, cadangan emas Tiongkok kini mencapai sekitar 2.313,48 ton dan masuk dalam lima besar negara dengan cadangan emas terbesar di dunia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: