Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Utang Selangit Warisan 10 Tahun, Akankah Prabowo Tercatat Lebih Canggih?

        Utang Selangit Warisan 10 Tahun, Akankah Prabowo Tercatat Lebih Canggih? Kredit Foto: BPMI
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pakar hukum tata negara Refly Harun mempertanyakan akhir dari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, khususnya terkait beban utang negara.

        Menurutnya, Prabowo bisa dikenang sebagai presiden yang canggih (sophisticated), namun juga berpotensi dianggap sekadar meniru pola para pendahulunya, bahkan melanjutkan tren utang yang kian membengkak.

        “Nanti kita akan lihat di akhir pemerintahan, apakah Prabowo akan dicatat sebagai presiden yang canggih, sophisticated. Atau justru sama saja dengan presiden sebelumnya yang hanya membawa persoalan, terutama yang 10 tahun berkuasa kemarin, yang utangnya bikin selangit,” ucap Refly, dikutip dari YouTube Refly Harun, Jumat (22/5).

        Refly menyoroti lonjakan utang negara dalam satu dekade terakhir. Ia membandingkan, sejak era Bung Karno hingga Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), total utang hanya sekitar Rp2.600 triliun. Namun, di era Jokowi, angka itu melonjak drastis hingga lebih dari Rp8.000 triliun.

        "Tentang kita, zaman SBY, mulai dari zaman Bung Karno sampai SBY, utang kita itu 2.600 triliun cuma. Begitu Jokowi, hebat Jokowi, langsung 8.000 sekian triliun lebih. Jadi hanya dalam jangka waktu 10 tahun pemerintah, dia membuat utang kita yang tadinya 2.600 dari tahun '45 sampai tahun 2019, ya kan, dari 2019 sampai 2024, alhamdulillah jadi 8.000 sekian lebih," imbuhnya.

        Baca Juga: Surat Investor China ke Prabowo Disorot DPR, Isu Korupsi hingga Pemerasan Muncul

        Baca Juga: Prabowo Diterpa Isu Pemakzulan, Jokowi Turun Tangan

        Sebagai informasi, pada awal masa jabatan 2014, Jokowi menerima warisan utang dari era SBY sebesar Rp2.608,7 triliun. Pada akhir masa jabatannya, total utang pemerintah melesat ke kisaran Rp8.500–Rp8.700 triliun.

        Artinya, selama 10 tahun, penambahan utang baru mencapai lebih dari Rp5.800 triliun—angka terbesar sepanjang sejarah kepemimpinan presiden Indonesia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Bagikan Artikel: