Live di TV! Detik-Detik Mencekam Jurnalis CBS News Tiarap Saat Penembakan di Gedung Putih
Kredit Foto: Ist
Sebuah rekaman video memperlihatkan momen mencekam saat reporter CBS News, Aaron Navarro, terpaksa langsung tiarap dan mencari tempat perlindungan ketika rentetan tembakan pecah di kompleks Gedung Putih, Amerika Serikat, Sabtu malam waktu setempat.
Otoritas keamanan mengonfirmasi bahwa seorang pria bersenjata tewas ditembak mati di lokasi kejadian setelah nekat melepaskan tembakan ke arah agen Dinas Rahasia AS (Secret Service).
Insiden ini juga sempat membuat area istana kepresidenan AS tersebut dalam status lockdown. CBS News melaporkan suasana menegangkan itu terjadi secara tiba-tiba.
Navarro diketahui sedang berada di tengah-tengah laporan langsung dari halaman utara (North Lawn) Gedung Putih. Saat ia sedang berbicara di depan kamera, suara letusan senjata api tiba-tiba menggema berulang kali.
Mendengar suara tembakan yang begitu dekat dan terdengar seperti puluhan kali letusan, jurnalis televisi tersebut langsung menghentikan laporannya. Ia refleks menurunkan posisi tubuhnya ke tanah (tiarap) dan bergegas mengikuti instruksi petugas untuk mencari tempat aman demi keselamatan dirinya.
Selain Navarro, koresponden ABC News Selina Wang yang berada di lokasi yang sama juga melaporkan kepanikan serupa. Para jurnalis akhirnya diungsikan secara darurat ke dalam ruang konferensi pers Gedung Putih.
Berdasarkan investigasi awal, insiden berdarah ini terjadi tepat di luar kompleks Gedung Putih, yakni di dekat persimpangan Pennsylvania Avenue dan 17th Street Northwest.
Pelaku bersenjata tersebut awalnya berjalan mendekati pos pemeriksaan keamanan sebelum akhirnya memberondong petugas dengan tembakan. Agen Secret Service yang berjaga langsung mengambil tindakan tegas dengan melepaskan tembakan balasan yang melumpuhkan pelaku.
Kondisi pelaku sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat, namun dinyatakan meninggal dunia tak lama kemudian. Sementara kondisi korban lain, seorang warga sipil yang berada di sekitar lokasi dilaporkan terkena peluru nyasar dan saat ini dalam kondisi kritis.
Laporan media lokal menyebutkan bahwa tersangka diduga kuat melancarkan aksi nekatnya tersebut karena sedang terkena mental health.
Hingga saat ini, pihak berwenang dan Dinas Rahasia AS masih melakukan penyelidikan mendalam untuk mengungkap motif pasti di balik serangan yang menyasar jantung pertahanan keamanan Presiden Amerika Serikat tersebut.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: