Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Meme Habibie vs Prabowo, Sekilas Intelektual tapi Keliru

        Meme Habibie vs Prabowo, Sekilas Intelektual tapi Keliru Kredit Foto: BPMI
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pegiat media sosial Ariyo Bimmo menyoroti beredarnya meme yang membandingkan kepemimpinan Presiden ke-3 B.J. Habibie dengan Presiden Prabowo Subianto dalam menghadapi tekanan ekonomi.

        Dalam meme tersebut, Habibie dianggap rasional karena menghentikan proyek strategis saat krisis moneter 1998, sementara Prabowo dicap keras kepala karena tetap menjalankan program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih.

        "Sekilas terlihat intelektual, padahal perbandingannya keliru sejak awal karena konteks zamannya berbeda total," ungkap Ariyo, dikutip dari YouTube COKRO TV, Sabtu (30/5).

        Ia menjelaskan Habibie memimpin Indonesia pada 1998, ketika krisis moneter Asia menghantam keras, dengan rupiah yang runtuh, bank-bank kolaps, kerusuhan sosial merebak, utang luar negeri membengkak, dan Indonesia berada di bawah pengawasan ketat IMF. Situasi itu disebut sebagai extraordinary crisis. 

        Pemerintah kala itu dipaksa melakukan penghematan ekstrem, restrukturisasi ekonomi, dan penghentian berbagai proyek strategis, termasuk proyek IPTN yang hingga kini masih diperdebatkan apakah langkah tersebut menyelamatkan ekonomi atau justru mengorbankan kemandirian teknologi nasional.

        "Artinya, bahkan kebijakan Habibie sendiri pun tidak hitam putih," ujarnya.

        Menurutnya, kondisi tersebut sangat berbeda dengan saat ini, dimana fundamental ekonomi Indonesia relatif stabil, pertumbuhan masih sekitar 5%, inflasi terkendali, cadangan devisa besar, dan rasio utang terhadap PDB jauh lebih rendah dibandingkan banyak negara lain. Data ini merujuk pada Bank Indonesia, BPS, dan Kementerian Keuangan.

        Baca Juga: Prabowo–Macron Perkuat Diplomasi, 27 MoU Senilai USD 11 Miliar Dikawal

        "Artinya apa? Ketika pemerintah tetap menjalankan program seperti Makan Bergizi Gratis, itu tidak otomatis berarti keras kepala. Karena dari perspektif pemerintah, program ini dipandang sebagai investasi sumber daya manusia jangka panjang," jelasnya.

        "Pemerintah melihat MBG bukan sekadar bagi-bagi makanan, tetapi bagian dari strategi mengurangi *stunting*, meningkatkan kualitas gizi, mendorong produktivitas generasi muda, dan menggerakkan ekonomi lokal melalui rantai pasok pangan," tandasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Bagikan Artikel: