Trump Sebut Perang Irak Kesalahan Besar AS, Tapi Tetap Bela Serangan ke Iran
Kredit Foto: Istimewa
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengkritik keras kebijakan perang Amerika di Irak sambil tetap mempertahankan sikap tegas terhadap Iran terkait program nuklirnya. Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan Fox News yang dikutip pada Sabtu (30/5/2026).
Trump menilai salah satu kesalahan terbesar dalam perang adalah menghancurkan seluruh institusi sebuah negara hingga membuat negara tersebut sulit bangkit kembali. Menurutnya, pengalaman masa lalu menjadi pelajaran penting bagi Amerika Serikat dalam menentukan strategi menghadapi konflik.
Karena itu, Trump mengungkapkan bahwa Washington sengaja tidak menjadikan militer Iran sebagai target utama meskipun melakukan serangan terhadap sejumlah elemen lain di negara tersebut. Ia menilai penghancuran total terhadap sebuah negara hanya akan menciptakan kekacauan berkepanjangan.
"Orang-orang mungkin akan terkejut mendengarnya, karena kesalahan pernah terjadi dalam perang ketika semua pihak dihancurkan, lalu negara tersebut tidak bisa pulih kembali bahkan hingga 40 tahun," kata Trump.
Trump kemudian menyinggung Irak sebagai contoh kegagalan kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang menurutnya tidak boleh terulang kembali. Ia bahkan menyebut langkah Washington di Irak sebagai tindakan yang keliru dan merugikan.
"Lihat apa yang terjadi di Irak. Kami melakukannya dengan sangat buruk, itu adalah keputusan yang sangat bodoh," ujar Trump.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena disampaikan langsung oleh seorang presiden Amerika Serikat yang tengah menghadapi ketegangan baru dengan Iran. Di saat yang sama, Trump berusaha menunjukkan bahwa pendekatan pemerintahannya berbeda dengan strategi perang yang pernah diterapkan Washington di Timur Tengah.
Meski mengakui kegagalan Amerika Serikat di Irak, Trump tetap mempertahankan pandangan keras terhadap Iran. Ia kembali menegaskan bahwa Teheran tidak boleh memiliki senjata nuklir dalam kondisi apa pun.
Trump juga mengklaim serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu berhasil mencegah negara tersebut memperoleh kemampuan membuat senjata nuklir. Serangan itu dilakukan menggunakan pesawat pembom siluman B-2 terhadap sejumlah fasilitas strategis Iran.
Menurut Trump, tanpa operasi militer tersebut Iran berpotensi mencapai kemampuan nuklir yang mengancam stabilitas kawasan dan kepentingan Amerika Serikat. Karena itu, ia menilai langkah yang diambil pemerintahannya merupakan tindakan yang diperlukan.
Baca Juga: Iran Tuding Trump Main Dua Kaki, Gencatan Senjata dengan AS Terancam Gagal
Di tengah negosiasi yang masih berlangsung antara Washington dan Teheran, Trump juga memberi sinyal bahwa dirinya tidak ingin terburu-buru mencapai kesepakatan baru. Ia menilai proses diplomasi membutuhkan waktu agar menghasilkan hasil yang menguntungkan.
"Kalau Anda terburu-buru, Anda tidak akan mendapatkan kesepakatan yang baik," kata Trump.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa pemerintah Amerika Serikat masih mempertahankan tekanan terhadap Iran meski jalur diplomasi tetap dibuka. Di satu sisi Trump mengakui kegagalan perang Irak, namun di sisi lain ia tetap membela kebijakan keras terhadap Iran demi mencegah pengembangan senjata nuklir.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama
Tag Terkait: