Miris! Konsumsi Susu Orang Indonesia Masih Kalah Jauh dari Malaysia dan Vietnam
Kredit Foto: Wjtodaycom
Tingkat konsumsi susu per kapita di Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah dan industri pengolahan susu untuk meningkatkan budaya konsumsi susu di dalam negeri.
Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian, Merrijantij Punguan Pintaria, membeberkan data yang menunjukkan rendahnya konsumsi susu masyarakat Indonesia dibandingkan negara ASEAN lainnya.
"Menurut World Population Review pada tahun 2022, tingkat konsumsi susu per kapita masyarakat Indonesia masih sebesar 17,76 liter per kapita per tahun," ujar Merrijantij dalam jumpa pers Hari Susu Nusantara 2026 di kantor Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Pangan, Selasa (2/6/2026).
Angka tersebut menempatkan Indonesia di bawah sejumlah negara Asia Tenggara lainnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa budaya konsumsi susu sebagai sumber nutrisi belum berkembang optimal di berbagai lapisan masyarakat.
"(Indonesia) ini di bawah Malaysia yang sudah mencapai 42,49 liter per kapita per tahunnya, dan Singapura sebesar 46,1 liter per kapita per tahun, dan Vietnam juga di atas kita dengan konsumsi sebesar 37,21 liter per kapita per tahun," katanya.
Baca Juga: Demi Swasembada Susu, Kementan Dorong Ekspansi Peternakan ke Subang dan Brebes
Baca Juga: Modal Di Bawah Rp5 Miliar, Kementan Gagas Program DASI Untuk Pasok Susu Makan Bergizi Gratis
Meski demikian, Merrijantij optimistis konsumsi susu masyarakat Indonesia masih dapat ditingkatkan. Ia menilai industri pengolahan susu nasional masih memiliki kapasitas yang cukup untuk mendukung peningkatan konsumsi.
"Saat ini utilisasi industri pengolahan susu ini masih di kisaran 72%. Jadi masih ada ruang gerak untuk peningkatan kapasitas di industri untuk memenuhi kebutuhan dalam meningkatkan konsumsi susu," ungkapnya.
Menurut Merrijantij, rendahnya konsumsi susu menjadi salah satu alasan penting bagi pemerintah untuk terus mendorong peningkatan akses dan konsumsi susu masyarakat, termasuk melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Ada ruang gerak dalam pemenuhan susu MBG. Kami menyadari ini masih ada ketertinggalan dalam suplainya mengingat memang selama ini kapasitas filling unit untuk volume yang ditetapkan di MBG ini masih belum sesuai dengan harapan," jelasnya.
Di sisi lain, Kementerian Pertanian terus mendorong inovasi pengembangan peternakan sapi perah guna mengejar target swasembada dan kedaulatan susu nasional. Salah satu strategi yang kini digencarkan adalah pemanfaatan lahan di wilayah dataran rendah.
Selama puluhan tahun, peternakan sapi perah di Indonesia identik dengan wilayah dataran tinggi yang memiliki suhu lebih sejuk. Namun, keterbatasan lahan di kawasan pegunungan mendorong pelaku usaha mulai mengembangkan peternakan di wilayah dataran rendah dengan dukungan teknologi modern.
Baca Juga: Ramai Isu MBG Bagikan Susu Formula Bayi, Pemerintah Langsung Revisi Pedoman
Baca Juga: BGN Tegaskan Tidak Buka Opsi Susu Formula Bayi dalam Program Makan Bergizi Gratis
Perwakilan Kementerian Pertanian, Makmun, mengatakan tren pembangunan peternakan sapi perah di dataran rendah mulai berkembang di sejumlah daerah.
"Jadi sekarang sudah banyak industri juga yang bangun di dataran rendah, seperti sekarang yang ada di Subang, ada yang bangun di Brebes, itu dataran rendah semua Bapak Ibu sekalian," ungkap Makmun.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: