Kredit Foto: Istihanah
Pemerintah merespons pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh level terendah sepanjang sejarah.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp18.049 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 82 poin atau sekitar 0,46 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.967 per dolar AS.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menegaskan pemerintah terus berkoordinasi dengan otoritas terkait untuk memantau perkembangan stabilitas nilai tukar rupiah.
"Berkenaan dengan masalah rupiah, kami pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan, kemudian bank Indonesia, kemudian juga Otoritas Jasa Keuangan terus berkoordinasi secara intens untuk terus memonitor dan kemudian melakukan langkah-langkah," kata Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Meski rupiah berada di titik terlemah sepanjang sejarah, Prasetyo menyatakan saat ini kondisi fundamental ekonomi nasional relatif kuat, terbukti dengan pencapaian ekonomi pada kuartal I 2026 sebesar 5,61%.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp18.000, Bagaimana Kemampuan Pemerintah Bayar Utang?
Baca Juga: Said Abdullah Ingatkan Pemerintah: Rupiah Itu Paling Tinggi Tidak Boleh Melebihi Batas Rp17.600
Pemerintah, kata dia, tetap optimistis terhadap ketahanan ekonomi nasional yang tercermin dari pertumbuhan ekonomi serta tingkat inflasi yang terkendali.
"Dari inflasi yang masih terjaga Insyallah sesungguhnya kita memiliki fundamental ekonomi yang cukup kuat," pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Cita Auliana
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: