- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Pemerintah Kebut Regulasi Migas Non Konvensional, Target Rampung Akhir Juni 2026
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Pemerintah mempercepat penyelesaian regulasi khusus migas non konvensional (MNK) sebagai salah satu strategi untuk mendongkrak produksi minyak dan gas nasional. Regulasi tersebut ditargetkan rampung pada akhir Juni 2026 dan mulai diimplementasikan pada awal Juli mendatang.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, mengatakan regulasi tersebut menjadi instrumen penting untuk memberikan kepastian bagi investor sekaligus mengakomodasi karakteristik pengembangan MNK yang memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi dibandingkan migas konvensional.
"SKK Migas itu minta kalau bisa akhir Juni ini sudah bisa diselesaikan kerangka regulasinya dan juga bisa diimplementasikan pada awal Juli. Jadi ini kita lagi berkejaran dengan waktu," kata Yuliot di Kementerian ESDM, Jumat (5/6/2026).
Menurut Yuliot, pemerintah tengah menyiapkan skema yang mempertimbangkan tingkat risiko dan keekonomian proyek MNK, termasuk aspek bagi hasil antara kontraktor dan pemerintah. Kehadiran regulasi tersebut dinilai krusial untuk menarik investasi baru dalam pengembangan sumber daya migas non konvensional yang selama ini belum tergarap optimal.
Ia mengungkapkan sejumlah perusahaan telah menunjukkan minat untuk bekerja sama dengan Pertamina dalam pengembangan MNK di Blok Rokan. Namun, para calon mitra tersebut masih menunggu kepastian regulasi sebelum merealisasikan investasi.
"Mereka meminta ada kepastian terlebih dulu. Jadi nanti berdasarkan kajian dari SKK Migas, siapapun penyedia teknologinya, kerjasamanya, itu tidak ada masalah," jelas Yuliot.
Apabila pengembangan MNK berjalan sesuai rencana, pemerintah berharap produksi minyak nasional dapat meningkat sehingga membantu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak.
Sementara itu, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Djoko Siswanto mengatakan prospek pengembangan MNK di Blok Rokan terus menunjukkan kemajuan. Pada pertengahan 2025, Pertamina Hulu Rokan (PHR) menyatakan struktur Gulamo dan Kelok siap memasuki tahap eksplorasi lanjutan guna memperoleh data tambahan terkait kualitas reservoir dan keekonomian proyek.
Baca Juga: Pemerintah Genjot Migas Nonkonvensional di Rokan, Potensinya Tembus 500 Ribu BPH
Baca Juga: DEN Sebut Impor Migas via BLU Hanya untuk Kondisi Mendesak
Menurut Djoko, fokus saat ini adalah memastikan reservoir tersebut dapat diproduksikan secara teknis maupun ekonomis sebelum memasuki tahap pengembangan yang lebih masif.
"Terus nantikan akan dibor dengan banyak sumur. Tentunya nanti akan ribuan barel oil per day setelah sumurnya. Sekarang pertamina sudah lakukan pemboran, sudah berhasil, sudah dites, sekarang Pertamina lagi mau mengajukan kontrak bagi hasilnya yang lebih menguntungkan," jelas Djoko.
Untuk memperkuat keyakinan terhadap potensi komersial MNK di Rokan, SKK Migas juga meminta PHR merealisasikan tambahan dua hingga tiga sumur appraisal. Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat proses pengambilan keputusan investasi sekaligus mendukung target peningkatan produksi migas nasional dalam jangka panjang.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: