Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        UGM Ungkap Penyebab Puluhan Titik Api Misterius di Sleman, Diduga..

        UGM Ungkap Penyebab Puluhan Titik Api Misterius di Sleman, Diduga.. Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengungkap teka-teki kemunculan puluhan titik api secara misterius di salah satu rumah warga di Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

        Berdasarkan hasil uji laboratorium, fenomena tersebut dipicu oleh akumulasi gas hidrogen yang tinggi akibat proses fermentasi limbah organik pemotongan ayam di sekitar lokasi.

        Tim dari Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM yang dipimpin oleh Prof. Ir. Alva Edy Tontowi, Ph.D., turun langsung melakukan tiga kali observasi untuk mencari penyebab pasti kebakaran tersebut.

        "Tim menemukan sebuah baju yang terbakar di salah satu titik pada observasi kedua. Akumulasi hidrogen yang terbaca di titik terbakarnya baju sangat tinggi, yakni mencapai 0,40. Tim juga mendapati adanya akumulasi hidrogen di kamar mandi sebesar 0,11, yang tergolong cukup tinggi," ujar Alva dalam keterangannya.

        Untuk memperkuat temuan, tim mengambil sampel air dari aliran pipa, sumur, dan air limbah rumah tangga.

        Alva menjelaskan, kunci untuk memecahkan misteri ini adalah dengan mengenali karakteristik gas yang keluar, yang diduga kuat berasal dari limbah cair atau gas tanah sisa aktivitas pemotongan ayam.

        Selain hidrogen, para peneliti UGM mengasumsikan adanya keterlibatan gas lain yang jauh lebih mudah terbakar pada suhu kamar, yaitu gas fosfin (PH3). Gas ini diduga terbentuk dari material yang kaya fosfat, seperti bagian keras dari bulu dan tulang ayam.

        "Sayangnya, gas fosfin tidak mudah terdeteksi dan akan langsung habis terbakar jika bertemu oksigen. Besar kemungkinan, gas fosfin tersebut yang memicu terbakarnya gas hidrogen ketika keduanya muncul bersamaan," lanjut Alva.

        Guna mendalami faktor pemicu lainnya, tim UGM juga telah melakukan penggalian dangkal di beberapa titik untuk mengukur fluktuasi keberadaan gas tersebut di dalam tanah.

        Sembari menunggu hasil analisis laboratorium lanjutan, Tim PKPE FT UGM merekomendasikan sejumlah langkah darurat kepada pemilik rumah untuk mencegah akumulasi gas yang dapat memantik api kembali, seperti membuka sirkulasi udara di dalam rumah selebar-lebarnya.

        "Memasang kipas angin guna menghalau rembesan gas agar tidak berkumpul di satu ruangan serta mengeluarkan barang-barang yang sifatnya mudah terbakar dari dalam rumah," tambahnya.

        Sebagai langkah penanganan fisik, tim UGM berencana membantu melakukan penjenuhan cairan basa menggunakan air kapur pada tanah dan lantai rumah. Langkah ini dinilai efektif untuk menekan pertumbuhan bakteri Clostridium, yakni bakteri yang berperan utama dalam menghasilkan gas hidrogen di bawah tanah.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: