Trump Kerap Pakai AI Anime, Kini Diserbu Netizen Gegara Unggah Dirinya jadi Naruto
Kredit Foto: AI
Penggunaan karakter anime dan manga populer Jepang oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam sejumlah unggahan media sosial memicu gelombang kritik dari para penggemar di Jepang. Kontroversi tersebut bahkan melahirkan petisi daring yang telah ditandatangani hampir 20.000 orang.
Kekecewaan mulai muncul sejak Maret 2026 ketika sejumlah penggemar menemukan unggahan yang menampilkan karakter-karakter ikonik Jepang seperti Naruto, Pikachu, hingga Yu-Gi-Oh!. Dalam beberapa unggahan, Trump bahkan digambarkan sebagai Naruto Uzumaki, tokoh utama serial anime dan manga terkenal yang mengisahkan perjalanan seorang ninja muda menuju posisi pemimpin desanya.
Petisi yang menyerukan agar Trump dan Gedung Putih menghormati karya manga Jepang pertama kali diluncurkan pada Maret lalu. Aksi tersebut dipicu oleh sejumlah unggahan akun resmi Gedung Putih di platform X yang menggabungkan rekaman serangan militer Amerika Serikat ke Iran dengan cuplikan dari anime Yu-Gi-Oh! dan Dragon Ball.
Selain itu, akun tersebut juga sempat mengunggah gambar bertuliskan slogan "Make America Great Again" yang ditempatkan di atas gambar yang diduga berasal dari gim Pokémon Pokopia. Kontroversi kembali mencuat setelah Trump membagikan video di platform Truth Social yang menampilkan dirinya sebagai Naruto.
Para penandatangan petisi menilai penggunaan karakter-karakter tersebut untuk kepentingan politik bertentangan dengan nilai yang selama ini dibawa oleh karya-karya anime dan manga Jepang. Mereka menegaskan bahwa karakter seperti Naruto mengajarkan keberanian, persahabatan, dan ketekunan, sehingga tidak sejalan dengan tujuan penggunaan yang dilakukan Trump.
Penggagas petisi, Nana Suzuki, warga Kanagawa berusia 34 tahun yang mengaku sebagai penggemar berat anime dan manga, mengatakan dirinya terdorong untuk bertindak karena merasa pesan yang terkandung dalam karya-karya tersebut tidak dihormati.
Suzuki secara khusus menyoroti mendiang Kazuki Takahashi, pencipta Yu-Gi-Oh!, yang meninggal dunia setelah berupaya menyelamatkan seseorang di laut. Menurutnya, penggunaan karya Takahashi dalam konteks militer sangat disayangkan, terlebih sang kreator sudah tidak dapat menyampaikan pandangannya sendiri.
Meski demikian, tidak semua penggemar anime menentang tindakan tersebut. Sebagian kecil pengguna media sosial menganggap penggunaan karakter anime oleh Trump justru dapat meningkatkan popularitas karya Jepang di tingkat internasional. Mereka menilai hal itu sebagai bentuk promosi gratis yang menunjukkan besarnya pengaruh budaya populer Jepang hingga dikenal oleh Presiden Amerika Serikat.
Baca Juga: Diakui Trump, Amerika Lakukan Operasi Senyap Demi Harga Minyak Tak Meledak ke US$250/Barel
Di tengah perdebatan tersebut, Pokémon Company International secara terbuka menyatakan bahwa pihaknya tidak memberikan izin kepada Gedung Putih untuk menggunakan citra Pokémon. Perusahaan itu juga menegaskan tidak terlibat dalam pembuatan maupun penyebaran materi tersebut.
Juru bicara Pokémon Company International, Sravanthi Dev, mengatakan misi perusahaan adalah menyatukan masyarakat dunia dan tidak berafiliasi dengan pandangan maupun agenda politik tertentu. Pernyataan itu semakin memperkuat kritik yang menyebut penggunaan karakter anime dan manga untuk kepentingan politik berpotensi melanggar hak para kreator serta pemegang hak cipta.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: