Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Insentif EV Dorong Thailand Jadi Magnet Investasi Otomotif Asia Tenggara

        Insentif EV Dorong Thailand Jadi Magnet Investasi Otomotif Asia Tenggara Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Thailand semakin agresif mendorong transformasi industri otomotif melalui kebijakan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Melalui skema EV 3.5 yang berlaku hingga 2027, pemerintah Thailand tidak hanya berupaya meningkatkan adopsi kendaraan listrik, tetapi juga membangun ekosistem manufaktur yang mampu menarik investasi global dan memperkuat rantai pasok domestik.

        Strategi tersebut menjadi bagian dari ambisi Thailand untuk menjadi pusat produksi kendaraan listrik terbesar di Asia Tenggara. Berbagai insentif fiskal dan dukungan investasi diberikan kepada produsen yang bersedia membangun kapasitas produksi lokal, khususnya pada segmen baterai, komponen, dan perakitan kendaraan listrik.

        Market Research Thailand mencatat bahwa penjualan kendaraan listrik di Thailand diperkirakan tumbuh sekitar 40% sepanjang 2025. Pertumbuhan tersebut didukung oleh insentif pemerintah, perluasan infrastruktur pengisian daya, serta meningkatnya ketersediaan kendaraan listrik yang dirakit secara lokal.

        Salah satu daya tarik utama kebijakan EV 3.5 adalah pemberian potongan pajak cukai hingga 2% untuk kendaraan listrik tertentu. Pemerintah juga menawarkan subsidi pembelian hingga THB 75.000 pada 2025 untuk kendaraan listrik dengan kapasitas baterai di atas 50 kWh. Langkah ini bertujuan menjaga pertumbuhan permintaan sekaligus mendorong produsen memperluas operasional mereka di Thailand.

        Namun, insentif tersebut disertai persyaratan yang cukup ketat. Produsen yang memperoleh keringanan impor diwajibkan memenuhi target produksi lokal dengan rasio dua kendaraan yang diproduksi di dalam negeri untuk setiap satu kendaraan impor pada 2026. Rasio tersebut akan meningkat menjadi tiga banding satu pada 2027. Kebijakan ini dirancang untuk memastikan investasi asing turut memperkuat kapasitas manufaktur domestik.

        Perkembangan pasar menunjukkan dampak yang cukup signifikan. Registrasi kendaraan listrik di Thailand meningkat dari kurang dari 10.000 unit pada 2021 menjadi sekitar 70.000 unit pada 2024. Pada saat yang sama, nilai pasar kendaraan listrik berbasis baterai (battery electric vehicle atau BEV) melonjak sekitar 400% antara 2021 dan 2022, sementara pertumbuhan tahunan gabungan diperkirakan melampaui 25% hingga 2027.

        Mickael Feige, Partner Asia di Eurogroup Consulting, menilai bahwa kebijakan Thailand menunjukkan pendekatan yang cukup seimbang antara menarik investasi asing dan membangun kemampuan industri dalam negeri.

        "Banyak negara berlomba menarik produsen kendaraan listrik, tetapi Thailand mencoba memastikan bahwa investasi yang masuk juga menciptakan kapasitas produksi dan transfer pengetahuan di tingkat lokal," ujarnya.

        Baca Juga: Menperin: Kendaraan Listrik Buatan Indonesia Sudah Capai TKDN di Atas 60 Persen

        Baca Juga: Insentif Belum Cair, Pembiayaan Kendaraan Listrik Naik 32% Tembus Rp23,39 Triliun

        Daya tarik tersebut mulai terlihat dari masuknya berbagai produsen global yang menjadikan Thailand sebagai basis produksi regional. Produsen dari China, Jepang, hingga Eropa semakin aktif memperluas operasinya di negara tersebut untuk memanfaatkan pasar domestik yang berkembang sekaligus peluang ekspor ke kawasan Asia Tenggara.

        Dalam jangka panjang, Thailand menargetkan pertumbuhan penjualan BEV dari sekitar 92.576 unit pada 2023 menjadi sekitar 290.000 unit pada 2030. Jika target tersebut tercapai, kendaraan listrik diperkirakan akan menyumbang hampir 29% dari total penjualan kendaraan di negara tersebut.

        Selain produsen kendaraan, peluang juga terbuka bagi sektor pendukung seperti baterai, daur ulang, pengolahan bahan baku, komponen otomotif, hingga infrastruktur pengisian daya. Perkembangan tersebut menciptakan ruang investasi baru bagi perusahaan yang ingin mengambil bagian dalam pertumbuhan industri mobilitas listrik di kawasan.

        Menurut Feige, keberhasilan Thailand dalam membangun industri kendaraan listrik tidak hanya akan ditentukan oleh pertumbuhan penjualan kendaraan, tetapi juga oleh kemampuan membangun rantai pasok yang kompetitif.

        "Negara yang mampu mengembangkan ekosistem lengkap, mulai dari produksi hingga teknologi pendukung, akan memiliki posisi yang lebih kuat dalam persaingan industri kendaraan listrik global," katanya.

        Bagi investor dan pelaku industri, perkembangan kebijakan EV Thailand menunjukkan bagaimana kombinasi insentif, target produksi lokal, dan investasi infrastruktur dapat menciptakan momentum pertumbuhan jangka panjang. Jika strategi tersebut berjalan sesuai rencana, Thailand berpotensi menjadi salah satu pusat manufaktur kendaraan listrik paling penting di Asia dalam dekade mendatang.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: