Kredit Foto: Cita Auliana
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan alasan pemerintah akhirnya mau memberikan insentif kembali untuk kendaraan listrik.
Insentif untuk kendaraan listrik itu baru dipikirkan setelah dirinya melakukan kunjungan ke Amerika Serikat dan mempelajari perkembangan situasi geopolitik, khususnya terkait Iran.
“Karena kita lihat harga minyak dunia kan enggak akan turun. Setelah saya ke Amerika, saya pelajarin cara Amerika melakukan diskusi dan mendesain term yang diberikan untuk Iran. Itu sepertinya desainnya untuk negara yang kalah perang. Dan pasti akan ditolak oleh Iran,” kata Purbaya kepada wartawan di Kementerian Keuangan, Selasa (12/5/2026).
Ia menilai kondisi tersebut membuat potensi konflik berkepanjangan semakin besar, sehingga tekanan terhadap harga energi global diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.
“Kelihatannya kalau gitu perangnya masih panjang. Artinya konsumsi BBM kita juga akan masih tinggi dan dengan harga yang lebih tinggi,” ujarnya.
Menurut Purbaya, di tengah kondisi tersebut maka kendaraan listrik sebagai salah satu solusi untuk menekan impor BBM sekaligus mengurangi beban subsidi energi.
Selain itu, Indonesia juga memiliki kapasitas listrik berlebih yang belum termanfaatkan secara optimal.
“Kalau saya bisa pindahkan ke listrik, itu akan mengurangi impor kita dengan signifikan. Di sisi lain ada listrik PLN yang tetap dibayar tapi nggak dipakai,” katanya.
Ia menjelaskan pemanfaatan kendaraan listrik diharapkan dapat menyerap kelebihan pasokan listrik nasional sehingga beban subsidi di sektor energi dapat ditekan
“Saya mau pakai itu supaya subsidinya di PLN mengecil, BBM juga mengecil. Itu utamanya,” ujarnya.
Baca Juga: Temui Purbaya, Menperin Bahas Hilal Insentif Kendaraan Listrik
Baca Juga: Temui Purbaya, Menperin Bahas Hilal Insentif Kendaraan Listrik
Bendahara Negara itu mengakui awalnya memang tidak terlalu agresif memberikan insentif mobil listrik karena memperkirakan konflik global tidak akan berlangsung lama.
"Tadi saya pikir kan perangnya sebentar lagi selesai. Udah nggak usah pusing-pusing. Ternyata setelah saya lihat, kayaknya masih lama," ungkap dia.
Ia memperkirakan koflik antara AS-Iran kemungkinan cepat akan berakhir pada September 2026. Namun, bisa saja lebih lama dari diperkirakan.
"September itu berakhir karena di sana ada pemilihan di Amerika Serikat. Tapi bisa aja jalan berlanjut terus. Jadi kita akan melihat terus," ungkap dia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Cita Auliana
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: