Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Hadapi Ketidakpastian Global, Sektor Keuangan Didorong Perkuat Mitigasi Risiko Prediktif

        Hadapi Ketidakpastian Global, Sektor Keuangan Didorong Perkuat Mitigasi Risiko Prediktif Kredit Foto: Azka Elfriza
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Lanskap sektor keuangan global saat ini tengah menghadapi tekanan dari volatilitas pasar, inflasi, fragmentasi geopolitik, hingga disrupsi rantai pasok.

        Kondisi ini menuntut industri perbankan dan jasa keuangan nasional untuk mengubah pendekatan manajemen risiko dari yang semula reaktif menjadi lebih adaptif dan forward-looking (berorientasi ke masa depan).

        Urgensi penguatan risk intelligence (kecerdasan risiko) tersebut mengemuka dalam diskusi iLearn Thematic Webinar bertajuk "Risk Intelligence and Sovereignty: Building Resilient Financial Ecosystems in an Uncertain World" yang digelar oleh Indonesia Re Institute pada Rabu (10/6/2026).

        Forum ini menyoroti strategi integrasi instrumen mitigasi dalam membangun ketahanan sistem keuangan, khususnya pada sektor perbankan dan asuransi kredit.

        Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi dan Tantangan Makro

        Department Head of Macro Economist Research & Publication Bank BNI, Immanuel Rinaldo, mengungkapkan bahwa kombinasi konflik geopolitik global yang memengaruhi harga energi dan jalur perdagangan internasional telah meningkatkan ketidakpastian dunia.

        Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia sempat menyentuh angka 5,61 persen di awal tahun 2026, Immanuel memproyeksikan angka tersebut akan melandai.

        "Pertumbuhan ekonomi diperkirakan melandai ke kisaran 5,2 persen secara tahunan, dengan proyeksi 4,9 persen hingga 5,0 persen pada semester kedua," papar Immanuel.

        Ia menambahkan bahwa dalam situasi ini, pelaku industri tidak bisa lagi hanya mengandalkan pengalaman krisis masa lalu. Integrasi data makroekonomi serta pengujian ketahanan (stress testing) secara berkala menjadi krusial untuk menghasilkan keputusan bisnis yang tepat.

        Strategi Diversifikasi dan Pengalihan Risiko Kredit

        Dari sisi operasional perbankan, Group Head Enterprise & Market Risk Bank BRI, Wita Adriawati, menekankan pentingnya diversifikasi portofolio dan perlindungan kredit secara menyeluruh (end-to-end).

        Sebagai gambaran, ia menyebut portofolio kredit BRI saat ini dijaga pada komposisi 35–40 persen di segmen mikro, 20 persen small business, 10 persen konsumer, dan 20–30 persen pada sektor korporasi.

        Wita juga menjelaskan efisiensi modal yang bisa didapatkan perbankan melalui instrumen pengalihan risiko (risk transfer) seperti asuransi kredit.

        "Dalam perhitungan Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR), kredit yang dijamin asuransi dapat memperoleh bobot risiko sekitar 20 persen, sehingga membantu efisiensi modal," ujarnya.

        Dalam skema ini, pelindungan umumnya mencakup porsi pertanggungan (coverage) hingga 70 persen, sementara 30 persen sisa risiko tetap ditanggung oleh bank sebagai bentuk pembagian risiko (risk sharing).

        Sementara itu, Senior Partner RWI Consulting, Deddy Jacobus, menggarisbawahi pentingnya transformasi tata kelola organisasi. Menurutnya, industri keuangan wajib memanfaatkan teknologi, kecerdasan buatan (AI), dan pendeteksian pola (pattern recognition) untuk membangun sistem peringatan dini (early warning system).

        "Kegagalan sebuah organisasi sering kali bukan bersumber dari kurangnya data, melainkan karena ketidakmampuan untuk membaca insight tersebut dan merespons perubahan secara tepat waktu," kata Deddy.

        Direktur Pengembangan dan Teknologi Informasi Indonesia Re, Beatrix Santi Anugrah, menyatakan bahwa penyediaan wadah edukasi lintas sektor ini merupakan bagian dari upaya membantu industri mengolah data mentah menjadi keputusan strategis.

        Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan bisnis sekitar 120 perusahaan asuransi nasional yang menjadi mitra strategis di dalam ekosistem keuangan Indonesia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: