Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Isi Perjanjian Bocor! Selat Hormuz hingga Dana Rp427 Triliun Jadi Batu Sandungan Damai Amerika-Iran

        Isi Perjanjian Bocor! Selat Hormuz hingga Dana Rp427 Triliun Jadi Batu Sandungan Damai Amerika-Iran Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Upaya mengakhiri konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran disebut semakin dekat menuju kesepakatan. Namun, bocornya rincian nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) justru mengungkap betapa rumitnya proses mendamaikan kedua negara yang selama puluhan tahun bermusuhan.

        Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa Washington telah mencapai "kesepakatan besar" dalam perang dengan Iran dan menyatakan dokumen final tengah disiapkan untuk ditandatangani dalam waktu dekat.

        Baca Juga: 'Mereka Mengecewakan Kami,' Amerika Serikat Ditipu Terang-terangan Militan Kurdi dalam Perang Iran

        "Selat Hormuz akan dibuka kembali setelah perjanjian ditandatangani," kata Trump, dikutip Minggu (14/6).

        Namun sehari berselang, Trump mengungkap sebagian rincian usulan kesepakatan dan menyebutnya sebagai langkah besar menuju perdamaian, meskipun negosiasi masih menyisakan sejumlah persoalan yang belum tuntas.

        Seorang pejabat senior pemerintahan Trump bahkan mengatakan kepada Reuters bahwa kedua pihak telah menyepakati draf teks perjanjian dan berharap dokumen tersebut dapat ditandatangani dalam beberapa hari mendatang.

        Jika benar terealisasi, kesepakatan itu diperkirakan akan berdampak besar terhadap stabilitas Timur Tengah, keamanan jalur pelayaran global, hingga harga energi dunia.

        Meski demikian, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa proses finalisasi masih berlangsung dan publik diminta tidak berspekulasi mengenai isi perjanjian.

        "Kesepakatan belum pernah sedekat ini. Semua detail akan dibagikan kepada publik pada waktunya," ujar Araghchi.

        Adapun menurut laporan media Iran, MoU antara Washington dan Teheran memuat 14 poin utama yang menunjukkan betapa sulitnya mencapai titik temu antara kedua negara.

        Beberapa poin paling krusial di antaranya adalah penghentian perang secara permanen di seluruh front, pencabutan penuh blokade angkatan laut AS dalam waktu 30 hari, penangguhan sanksi terhadap ekspor minyak Iran, hingga pembukaan kembali Selat Hormuz.

        Iran juga menuntut pencairan dana yang dibekukan sebesar US$24 miliar atau sekitar Rp427 triliun serta program rekonstruksi senilai US$300 miliar untuk memulihkan perekonomian mereka yang terdampak perang.

        Tak hanya itu, Teheran meminta komitmen AS untuk tidak menambah pasukan di kawasan, tidak menjatuhkan sanksi baru, dan tidak ikut campur dalam urusan dalam negeri Iran.

        Persoalan lain yang membuat perundingan semakin kompleks adalah tuntutan Iran agar Israel menghentikan serangan ke Lebanon dan menarik pasukannya dari wilayah tersebut.

        Permintaan itu langsung mendapat penolakan dari Menteri Pertahanan Israel Israel Katz yang menegaskan negaranya tidak akan menarik pasukan dari zona keamanan di Lebanon, Suriah, maupun Gaza, apa pun hasil perjanjian antara Washington dan Teheran.

        Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan belum ada kesimpulan akhir meskipun sebagian isi perjanjian telah disetujui.

        Bahkan, sumber yang dekat dengan tim negosiasi Iran kepada kantor berita Fars menyebut kabar mengenai penandatanganan perjanjian final di Jenewa pada akhir pekan ini sebagai informasi yang "sama sekali tidak benar".

        Bocornya isi nota kesepahaman tersebut menunjukkan bahwa perdamaian AS-Iran tidak hanya berkaitan dengan isu nuklir, tetapi juga menyangkut pencabutan sanksi, keamanan regional, kepentingan Israel, jalur energi global, hingga miliaran dolar kompensasi ekonomi.

        Baca Juga: 'Kami Bukan Raja Dunia,' FIFA Angkat Tangan Soal Kelakuan Amerika ke Timnas Iran di Piala Dunia 2026

        Dengan banyaknya syarat yang harus dipenuhi kedua belah pihak, jalan menuju perdamaian tampaknya masih dipenuhi ranjau diplomatik, meski dokumen perjanjian disebut sudah berada di tahap akhir.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: