Kredit Foto: Istimewa
Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkap penyebab munculnya puluhan titik api misterius di rumah warga Seyegan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Berdasarkan hasil penelitian, fenomena tersebut diduga dipicu oleh residu kebakaran yang berkaitan dengan gas hidrogen dari limbah pemotongan ayam serta kontaminasi senyawa kimia tertentu.
Kesimpulan itu secara resmi disampaikan dalam konferensi pers di Gedung Engineering Research and Innovation Center (ERIC) UGM, Minggu (14/6/2026), dan dirilis secara resmi pada Senin (15/6/2026).
Ketua Tim Pakar UGM, Prof. Alva Edy Tontowi, mengatakan tim mendeteksi keberadaan gas hidrogen (H₂) pada sejumlah titik kemunculan api yang diduga berkaitan dengan gas pyrophoric yang berasal dari limbah potongan ayam.
"Sesuai dengan dugaan awal, tim mendeteksi adanya gas hidrogen (H₂) pada titik-titik munculnya api yang diduga berasosiasi dengan gas pyrophoric yang berasal dari limbah potongan ayam,” kata Alva.
Dalam proses investigasi, tim yang terdiri atas 18 peneliti lintas disiplin melakukan pemeriksaan terhadap residu kebakaran pada dinding keramik, kayu, dan tripleks menggunakan teknologi Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR).
Dari sampel terakhir yang diambil pada 12 Juni 2026, ditemukan kandungan Polivinil Klorida (PVC) pada permukaan keramik dan dinding rumah. Temuan ini dinilai menjadi penjelasan atas pembacaan alat detektor gas selama proses investigasi.
"Ketika PVC terbakar akan menghasilkan gas hidrogen klorida. Detektor kemudian membaca gas tersebut sebagai gas hidrogen,” ujar Alva.
Sebelumnya, tim telah melakukan observasi sejak 30 Mei 2026 untuk memastikan kemungkinan adanya faktor alam yang memicu kebakaran.
Berbagai metode digunakan, termasuk georadar, geolistrik, dan pemantauan menggunakan drone dengan sensor inframerah dalam radius 200 meter dari lokasi.
Hasil pengujian menunjukkan tidak ditemukan anomali termal, retakan tanah yang mengandung gas alam komersial, maupun gangguan medan listrik dan magnet yang tidak wajar.
Anggota tim pakar, Dr. Sarju Winardi, mengatakan tidak terdapat bukti kuat yang menunjukkan api muncul secara alami akibat pemantik elektromagnetik ataupun proses spontaneous ignition atau pembakaran spontan.
"Seiring berjalannya waktu, tim tidak cukup menemukan bukti kuat bahwa api muncul secara alami dan dapat menyala karena pemantik elektromagnetik maupun menyala sendiri akibat spontaneous ignition,” ujarnya.
Dengan rampungnya penelitian tersebut, UGM menyatakan observasi terkait fenomena titik api misterius di Seyegan secara resmi telah selesai. Penanganan lanjutan kini diserahkan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: