Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Gagal Pertahankan Penguatan, Ditarik Turun Saham-Saham Jumbo

        IHSG Gagal Pertahankan Penguatan, Ditarik Turun Saham-Saham Jumbo Kredit Foto: Antara/M Risyal Hidayat
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,84% atau 52,23 poin ke level 6.202 pada perdagangan Rabu (17/6/2026), setelah tekanan jual pada sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama kelompok konglomerasi, menghapus optimisme yang sempat muncul di awal sesi perdagangan.

        Data perdagangan menunjukkan IHSG sempat dibuka menguat di level 6.321,96 dan menyentuh level tertinggi 6.377,19. Namun tekanan jual yang muncul sepanjang hari mendorong indeks berbalik arah hingga menyentuh level terendah 6.179,67 sebelum ditutup di 6.202.

        Nilai transaksi tercatat mencapai Rp24,67 triliun dengan volume perdagangan 31,47 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 2,31 juta kali. Sebanyak 306 saham menguat, 409 saham melemah, dan 244 saham stagnan.

        Berdasarkan riset Mirae Asset Sekuritas, optimisme pasar yang sempat muncul pada awal perdagangan memudar seiring berjalannya sesi perdagangan.

        “Optimisme yang masih menghinggapi pasar di awal perdagangan memudar seiring berjalannya waktu, dan IHSG berakhir melemah 0,84% ke level 6.202 di akhir sesi perdagangan hari ini,” tulis Mirae Asset Sekuritas dalam riset hariannya, Rabu (17/6/2026). 

        Mirae mencatat saham-saham konglomerasi menjadi pemberat utama indeks. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) memimpin tekanan dengan koreksi sekitar 12%, disusul PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang turun 6,1% dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang melemah 5,7%.

        Koreksi BREN menjadi sorotan karena emiten energi terbarukan tersebut merupakan saham dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua di Bursa Efek Indonesia setelah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Meski turun 12%, kapitalisasi pasar BREN masih berada di kisaran Rp500 triliun.

        Dari sisi sektoral, hanya indeks sektor non-siklikal yang mampu bertahan di zona hijau. Sebaliknya, sektor industri dan energi menjadi dua sektor yang mencatat pelemahan terdalam dan memberikan tekanan terbesar terhadap pergerakan IHSG.

        Di jajaran saham dengan kenaikan tertinggi (top gainers), PT Bank JTrust Indonesia Tbk (BCIC) memimpin dengan kenaikan 35%, diikuti PT Danasupra Erapacific Tbk (DEFI) sebesar 30,63%, PT Sinergi Inti Plastindo Tbk (ESIP) sebesar 28,83%, PT Aracord Nusantara Group Tbk (RONY) sebesar 24,58%, serta PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) sebesar 21,95%.

        Sementara itu, daftar saham dengan pelemahan terdalam (top losers) dipimpin oleh PT Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk (GHON) yang turun 14,81%, PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) melemah 14,79%, PT Nusantara Almazia Tbk (NZIA) turun 14,68%, BREN terkoreksi 12%, dan PT Golden Flower Tbk (POLU) melemah 10,79%.

        Baca Juga: IHSG Dibuka Menguat 1,50%, Pasar Masih Tunggu Hasil Kesepakatan Damai AS-Iran

        Baca Juga: Setelah Jatuh 41,72%, IHSG Mulai Bangkit? Ini Data Historisnya

        Mirae Asset juga mencatat pergerakan bursa Asia berlangsung bervariasi sepanjang perdagangan. Bursa Tokyo dan Mumbai bergerak menguat, sedangkan pasar Hong Kong dan Shanghai ditutup melemah.

        Pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar di dalam negeri membuat IHSG gagal mengikuti penguatan sebagian bursa regional dan kembali ditutup di bawah level psikologis 6.250.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: