Kredit Foto: Istimewa
Mantan dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) Ardianto Satriawan menyoroti pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan bahwa tidak ada hal lebih genting daripada perut lapar.
Ardianto mengingatkan Prabowo bahwa jika ingin rakyat terbebas dari kelaparan, pemerintah harus membenahi sistem negara dan membuka banyak lapangan kerja agar masyarakat bisa mandiri, bukan sekadar diberi makanan langsung seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Pak pernah denger ga sih, kalo jangan kasih ikannya, tapi alat pancingnya. Kalo pemerintahnya bener, negaranya bener, lapangan pekerjaan banyak, ya ga akan ada yang kelaparan Pak," tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Kamis (25/6).
Ia juga menyindir bahwa para pejabat di sekitar presiden tidak ada yang mampu memberi pemahaman yang tepat.
"Ini pejabat sekitarnya gada yang bisa kasi paham apa," tandasnya.
Sebelumnya, alam pidatonya di Puncak Pekan Nasional Petani Nelayan XVII di Gorontalo, Prabowo menyinggung pihak-pihak yang menolak program MBG.
Ia menegaskan, mereka seharusnya datang langsung ke Gorontalo dan bertanya kepada anak-anak, petani, serta nelayan apakah program tersebut dibutuhkan atau tidak.
"Ada juga yang nggak setuju MBG. Harusnya mereka yang nggak setuju MBG datang ke sini, ya. Tanya itu petani, nelayan, MBG perlu atau tidak?" kata Prabowo, dikutip Kamis (25/6).
"Tanya anak-anak, MBG perlu atau tidak?" lanjut Prabowo yang kemudian dijawab 'perlu' dengan sorak.
Prabowo menegaskan tidak ada yang lebih genting daripada mengatasi perut lapar. Menurutnya, perut kosong yang tidak segera diisi bisa berakibat fatal, bahkan kematian.
Baca Juga: Evaluasi MBG, Luhut: Ide Besar dari Presiden, Tapi yang Salah Kita Semua
"Katanya ada orang-orang pintar yang mengatakan ada lebih genting dari perut lapar. Saya kira nggak ada lebih genting dari perut lapar. Orang perut lapar itu kalau nggak segera diisi, ya dia mati!" ucap Prabowo.
Ia juga menyebutkan ramalan PBB bahwa kelaparan global tahun ini akan meningkat drastis, dari 300 juta orang dua tahun lalu menjadi 500–700 juta orang saat ini.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya