Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kasih Paham Anies Baswedan? Prabowo: Tiap Pemilihan Gaduh, yang Kalah Ribut!

        Kasih Paham Anies Baswedan? Prabowo: Tiap Pemilihan Gaduh, yang Kalah Ribut! Kredit Foto: BPMI
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Presiden RI Prabowo Subianto mengingatkan pentingnya menghormati hasil demokrasi dan tidak terus memperpanjang polemik setelah pemilihan presiden selesai. 

        Pernyataan tersebut langsung menyita perhatian karena disampaikan tak lama setelah mantan calon presiden Anies Baswedan melontarkan pernyataan yang mengajak publik merenungkan pilihan mereka pada Pilpres 2024.

        Dalam pidatonya di Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 di Jakarta, Prabowo menilai kegaduhan politik pasca-pemilu tidak akan membawa manfaat bagi bangsa.

        "Kedaulatan rakyat wujudnya adalah demokrasi, demokrasi wujudnya adalah pemilihan. Kita mengerti, kita mungkin tidak puas, tetapi alternatifnya apa? Apakah kita mau gaduh? Habis tiap pemilihan gaduh, tiap pemilihan gaduh, yang kalah ribut," ujar Kepala Negara.

        Prabowo menekankan bahwa setiap orang bebas memiliki pendapat berbeda, tetapi kebebasan tersebut tidak boleh berubah menjadi tindakan yang memecah belah masyarakat.

        Baca Juga: Siap Saingi PDIP? Jokowi: Kita Lihat di 2029, PSI akan Jadi Partai Besar

        "Silakan kalau ada yang berpendapat lain. Itu hak. Saya katakan kita berbeda. Kalau ada yang berpendapat bahwa gaduh, ribut, bakar-bakar, anarki, kebencian, permusuhan, maki-memaki itu tidak produktif. Sementara negara lain menuju kesejahteraan, menuju terobosan, menuju kekayaan," katanya.

        Ia kemudian mengungkapkan pengalaman pribadinya selama berkontestasi dalam pemilihan presiden. Meski empat kali gagal memperoleh mandat rakyat, Prabowo mengaku tidak pernah mengganggu pemerintahan yang terpilih.

        "Saya sebagai pemimpin politik, saya dipilih secara demokratis. Saya maju ke rakyat lima kali minta mandat. Empat kali tidak diberi mandat. Empat kali saya kalah, tapi saya tidak mengganggu pemimpin yang dapat mandat," kata Prabowo.

        Menurut Prabowo, kemajuan sebuah bangsa sangat bergantung pada kemampuan para elitnya untuk bekerja sama. Ia menyebut sejarah telah membuktikan bahwa negara akan berkembang jika para pemimpinnya mampu bersatu.

        "Dari apa yang saya pelajari dari sejarah ribuan tahun, bangsa-bangsa yang elitenya bisa bekerja sama, itulah bangsa yang bangkit. Bangsa yang elitenya selalu tidak bisa bekerja sama, bangsa itu tidak bisa menjadi potensinya. Ini sejarah mengajarkan sampai hari ini," lanjutnya.

        Pernyataan tersebut ramai dikaitkan dengan ucapan Anies Baswedan yang sebelumnya menjadi perbincangan publik.

        Baca Juga: Rakyat Tagih 19 Juta Lapangan Kerja, Gerindra Klaim MBG Sudah Ciptakan 1,3 Juta Loker

        Saat ditanya apakah menyesal ikut Pilpres 2024, Anies justru melontarkan pertanyaan balik kepada masyarakat.

        “Ada yang tanya, Pak Anies, nyesel nggak ikut Pilpres? Maka jawaban saya, nyesel nggak, nggak milih kemarin? Jadi bukan nyesel saya ikut Pilpres. Saya tanya nyesel nggak Anda nggak milih kemarin,” kata Anies dalam tayangan di kanal YouTube pribadinya.

        Ucapan kedua tokoh tersebut kini memicu beragam tafsir di ruang publik. Sebagian menilai Prabowo sedang menegaskan pentingnya menerima hasil demokrasi, sementara yang lain melihatnya sebagai respons tidak langsung terhadap pernyataan Anies mengenai Pilpres 2024.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Bagikan Artikel: