Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Purbaya Beberkan Biang Kerok Terjadinya Defisit Neraca Perdagangan RI

        Purbaya Beberkan Biang Kerok Terjadinya Defisit Neraca Perdagangan RI Kredit Foto: Cita Auliana
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menjelaskan defisit neraca perdagangan yang terjadi pada Mei 2026 sebesar US$1,61 miliar dipengaruhi oleh meningkatnya defisit sektor minyak dan gas (migas) akibat kenaikan harga minyak dunia.

        "Dugaan saya karena itu, kan kita impor migas, harganya naik kan," kata Purbaya kepada wartawan di Kantornya, Jakarta, Rabu (1/7/2026).

        Menurut Purbaya, kondisi tersebut perlu dilihat secara kumulatif, bukan hanya berdasarkan data satu bulan. Ia menegaskan, secara tahun berjalan (year-to-date) periode Januari-Mei 2026, neraca perdagangan Indonesia justru masih mencatatkan surplus.

        "Kalau kita lihat year to date Januari-Mei, migasnya negatif US$12 miliar, sementara nonmigas masih positif US$16 miliar, totalnya masih surplus sekitar US$4 miliar," ujar Purbaya.

        Ia menjelaskan, lonjakan harga minyak dunia menyebabkan nilai impor migas meningkat sehingga memperlebar defisit sektor tersebut.

        Purbaya menilai pelebaran defisit migas merupakan dampak dari faktor eksternal, terutama kenaikan harga minyak global. Karena itu, ia memperkirakan tekanan tersebut akan mereda seiring terkendalinya harga minyak dunia ke depan.

        "Betul, kenaikannya karena migas yang defisitnya membesar akibat harga minyak dunia yang tinggi. Jadi harusnya nanti akan terkendali ke depan," katanya.

        Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit pada Mei 2026 sebesar US$1,61 miliar. Dengan demikian, Indonesia mengakhiri tren surplus perdagangan yang tercatat sejak Mei 2020.

        "Pada Mei 2026, neraca perdagangan barang mengalami defisit sebesar US$1,61 miliar," ungkap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, di Kantor BPS, Jakarta, Rabu (1/7/2027/6)

        Ateng mengungkapkan defisit pada Mei terjadi usah ekspor Indonesia lebih rendah dibandingkan posisi impor. Eekspor Mei 2026 tercatat mencapai US$23,20 miliar atau turun 5,73% jika dibandingkan Mei 2025 (year on year/YoY).

        Nilai ekspor migas tercatat sebesar US$0,76 miliar atau turun 31,76%, sedangkan nilai ekspor nonmigas turun 4,50% dengan nilai pada Mei 2026 sebesar US$22,45 miliar.

        Penurunan nilai ekspor Mei 2026 terutama didorong oleh ekspor nonmigas dari beberapa komoditas yaitu logam mulia/perhiasan (HS71) turun 59,35%, biji logam/perak (HS26) turun 99,25%, besi/baja (HS72) turun 14,68%.

        Baca Juga: Neraca Perdagangan RI Defisit US$1,61 Miliar pada Mei 2026

        Baca Juga: Benarkah Data Sensus Ekonomi 2026 Dipakai untuk Keperluan Pajak? Ini Kata BPS

        Sementara nilai impor Mei 2026 mencapai US$24,81 miliar atau naik 22,16% dibandingkan Mei 2025 (year on year/yoy). Nilai impor migas Mei 2026 mencapai US$4,51 miliar atau naik 70,78% secara yoy, sedangkan nilai impor nonmigas Mei 2026 mencapai US$20,30 miliar atau naik 14,89% secara yoy.

        "Defisit pada bulan Mei 2026 disebabkan terutama defisit pada komoditas migas, defisitnya sebesar US$7,63 miliar dengan penyumbang defisitnya yaitu dari hasil minyak dan minyak mentah," kata Ateng.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: