Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Airlangga Buka-bukaan Soal Kondisi Ekonomi RI Saat Rupiah Kembali ke Level Rp18.000

        Airlangga Buka-bukaan Soal Kondisi Ekonomi RI Saat Rupiah Kembali ke Level Rp18.000 Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan fundamental perekonomian Indonesia masih tetap kuat meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menyentuh Rp18.000.

        Airlangga menjelaskan, sejumlah indikator makroekonomi menunjukkan kondisi ekonomi nasional masih terjaga. Salah satunya adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih mencapai 5,61%.‎

        ‎"Ya, pertama kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi kemarin kan masih baik di 5,61. Kemudian kalau kita lihat neraca perdagangan year to date juga masih positif," kata Airlangga di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (10/7/2026). 

        Airlangga menyebut bahwa neraca perdagangan sempat mengalami defisit dalam satu bulan terakhir. Namun, kondisi tersebut dipicu oleh kenaikan harga impor bahan bakar minyak (BBM), bukan karena pelemahan kinerja ekspor nasional.

        Ia mengatakan ekspor terhadap sejumlah komoditas utama, seperti kelapa sawit, batu bara, dan ferro alloy, masih berada pada level yang relatif stabil. Pemerintah pun optimistis kinerja perdagangan akan tetap terjaga dalam beberapa bulan ke depan.

        ‎"Kemarin satu bulan memang negatif karena memang dari segi impor BBM itu memang harganya spike, harganya naik. Sedangkan ekspor daripada kelapa sawit, kemudian batu bara, dan juga ferro alloy sebetulnya angkanya relatif sama kemarin sehingga tentu ini kita akan jaga juga beberapa bulan ke depan," tuturnya.

        Selain itu, Airlangga memastikan inflasi masih berada dalam target yang ditetapkan pemerintah, yakni 2,5 persen dengan rentang plus minus 1 persen. 

        Untuk mendukung aktivitas industri, pemerintah juga tengah menyiapkan berbagai insentif, di antaranya pembebasan bea masuk impor bahan baku plastik bagi industri kimia dan tarif bea masuk nol persen untuk impor LPG sebagai bahan baku industri petrokimia selama enam bulan.

        Lebih lanjut, Airlangga menyebut pelaksanaan berbagai program prioritas Presiden, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan pembiayaan perumahan, terus menunjukkan perkembangan yang positif dan menjadi penopang aktivitas ekonomi.

        Airlangga juga menilai industri perbankan masih berada dalam kondisi sehat. Dana pihak ketiga (DPK) tercatat tumbuh 13,47 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Mei 2026. Sementara itu, penyaluran kredit juga mencatatkan pertumbuhan dua digit sebesar 11,51 persen pada periode yang sama.

        Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp18.065 per Dolar AS, Ditopang Proyeksi Positif IMF

        Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat ke Rp18.083 per Dolar AS

        Lebih lanjut, Airlangga mengatakan berbagai lembaga internasional, seperti World Bank, IMF, dan OECD, masih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5 persen. Menurutnya, proyeksi tersebut menunjukkan kepercayaan global terhadap ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

        "Dan dari berbagai lembaga, baik itu World Bank, IMF, maupun OECD, pertumbuhan ekonomi kita masih dalam range sekitar 5%. Jadi relatif semua menilai perekonomian kita relatif aman dan solid," pungkasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Cita Auliana
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: