Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Resmi! ESDM Buka Relaksasi Nikel 2026, Segini Besarnya

        Resmi! ESDM Buka Relaksasi Nikel 2026, Segini Besarnya Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Tri Winarno, menyatakan bahwa pemerintah membuka ruang relaksasi untuk produksi nikel pada tahun 2026.

        Meski demikian, Tri menegaskan bahwa kenaikan produksi tersebut tidak akan melonjak signifikan dari target Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) nikel tahun 2026 yang telah ditetapkan di rentang 260 hingga 270 juta ton.

        "Ini saya mau jelaskan nikel tidak ada kenaikan, kecuali hanya mengejar yang untuk smelter yang yang masih kekurangan supply," kata Tri saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (10/7/2026).

        Tri melanjutkan bahwa kebijakan penambahan kuota produksi ini murni diambil demi mencukupi kebutuhan fasilitas pemurnian (smelter) di dalam negeri.

        "Jadi penambahan untuk nikel enggak terlalu signifikanlah hanya untuk mengejar yang yang itu (kebutuhan smelter)," lanjutnya.

        Langkah relaksasi produksi ini dijadwalkan mulai berjalan pada Juli ini. Pemerintah memastikan pelaksanaannya akan dilakukan secara terukur agar tidak memicu kondisi kelebihan pasokan (over supply) nikel di pasar domestik.

        "kalau angkanya enggak ini tapi belum clear apa maksudnya hanya untuk mengejar yang itu tapi jangan sampai kita tahan pokoknya jangan sampai ada over supply. Itu aja,'' tambahnya. 

        Guna memfasilitasi kebutuhan ini, pemerintah mempersilakan perusahaan tambang untuk mengajukan revisi atau penambahan kuota. Namun, Kementerian ESDM tetap akan selektif dalam memberikan persetujuan.

        Baca Juga: INDEF Soroti Defisit Bijih Nikel, Utilisasi Smelter Bisa Turun 30 Persen

        Baca Juga: ESDM Siapkan Perdagangan Karbon Sektor Energi, Negara Bakal Dapat Bagian

        "silahkan (perusahaan) masukin (mengajukan penambahan) silahkan kalau misalnya ini (gak sesuai) kan tinggal ditolak-tolakin doang," tambahnya.

        Ketika ditanya lebih spesifik mengenai jenis bijih nikel yang saat ini sangat dibutuhkan oleh smelter, Tri Tri menjelaskan bahwa kebutuhan tersebut mencakup limonit maupun saprolit.

        "Limonit. enggak patok. pokoknya jadi ada space yang kebutuhan smelter dengan produksi. Nah memang ada yang sebagian yang limonit sebagian saprolit. Nah itu aja buat nutup itu. Yang lain enggak ada....ya pokonya untuk hilirisasi," tutupnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: