Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Loyalis Jokowi Sorot Demo BEM UI: Katanya Bela Rakyat, Kok Rakyat Juga yang Dirugikan?

Loyalis Jokowi Sorot Demo BEM UI: Katanya Bela Rakyat, Kok Rakyat Juga yang Dirugikan? Kredit Foto: Instagram/Dede Budhyarto
Warta Ekonomi, Jakarta -

Aksi demonstrasi mahasiswa yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama Front Mahasiswa Nasional (FMN) di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, pada Selasa (18/8/2026), menuai sorotan dari loyalis Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), Dede Budhyarto. Kritik tersebut terutama diarahkan pada dampak aksi terhadap aktivitas masyarakat yang menggunakan jalan raya.

Melalui akun X, Dede mengunggah tangkapan layar berisi keluhan masyarakat yang mengaku aktivitasnya terganggu akibat demonstrasi. Salah satu gambar yang beredar bahkan memperlihatkan seorang mahasiswa UI menghadang sebuah mobil yang hendak melintas.

Dede menegaskan mahasiswa tetap memiliki hak untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah. Namun, menurutnya, kebebasan menyampaikan aspirasi tidak seharusnya menghilangkan hak masyarakat lain yang juga membutuhkan akses jalan.

Baca Juga: Pakar: Fatimah Memperjuangkan Indonesia, Gibran bin Jokowi Justru Merusaknya

"Silakan demo. Silakan kritik pemerintah. Itu hak mahasiswa & dijamin demokrasi. Tapi ingat, jalan raya bukan milik demonstran seorang diri," tulis Dede di akun X. 

Ia kemudian mengingatkan bahwa jalan raya digunakan berbagai kelompok masyarakat untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Mulai dari bekerja, kuliah, berdagang, mengantar anak sekolah, hingga mengirim paket.

"Di sana ada rakyat yg mau kerja, kuliah, berdagang, antar anak sekolah, kirim paket, bahkan mungkin membawa orang sakit. Mereka juga punya hak yg sama untuk menggunakan jalan," ungkapnya.

Dede pun menyoroti tindakan yang dinilainya berpotensi membuat masyarakat justru dirugikan oleh aksi yang mengatasnamakan kepentingan rakyat.

"Kalau katanya turun ke jalan atas nama rakyat, jangan sampai rakyat justru yg kalian paksa berhenti, kalian halangi, bahkan kendaraannya dijadikan tempat bergelantungan," katanya.

Baca Juga: Mahfud MD: Zaman Orde Baru yang Katanya Penuh KKN Jauh Loh Lebih Bagus dari Sekarang

"Menyampaikan aspirasi itu hak. Mengganggu hak orang lain bukan bagian dari aspirasi," lanjut Dede.

Ia juga meminta mahasiswa tetap mempertahankan empati ketika menyampaikan tuntutan di ruang publik. Menurutnya, aksi yang dilakukan atas nama rakyat semestinya tidak justru menyulitkan masyarakat.

"Jangan teriak 'demi rakyat' kalau rakyat yg sedang mencari nafkah malah dibuat susah. Demo boleh keras suaranya, tapi jangan kehilangan nalar & empati," tambah dia.

"Perjuangan yg benar seharusnya membuat rakyat bersimpati, bukan malah bertanya: 'Katanya membela kami, kok kami juga yg dirugikan?'," tutup Dede.

Adapun BEM UI bersama FMN sebelumnya membawa delapan tuntutan utama dalam aksi bertajuk #MerebutKemerdekaan yang digelar sehari setelah peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. 

Delapan tuntutan yang disuarakan mahasiswa meliputi:

  1. Menghentikan penjajahan negara atas rakyat sendiri.
  2. Menghentikan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).
  3. Mewujudkan reforma agraria sejati.
  4. Menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM.
  5. Mengevaluasi total PSN serta menghentikan MBG dan KDMP.
  6. Menghentikan pemusatan kekuasaan dan pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD), serta mengembalikan otonomi daerah.
  7. Menetapkan status bencana nasional untuk daerah Sumatra dan Flores serta mempercepat pemulihan wilayah terdampak bencana.
  8. Menghentikan represifitas dan intervensi TNI-Polri dalam ruang sipil serta membubarkan YON TP.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri