Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat aksi saling serang. Situasi ini memicu kekhawatiran dunia karena konflik terbaru tersebut berpotensi mengganggu stabilitas kawasan, terutama di jalur pelayaran strategis Selat Hormuz yang menjadi urat nadi perdagangan energi global.
Di tengah eskalasi tersebut, China angkat suara. Beijing mendesak kedua negara untuk segera menahan diri dan tidak kembali menyeret kawasan ke dalam perang yang lebih besar.
Pemerintah China mengingatkan bahwa dampak konflik bukan hanya dirasakan oleh pihak yang bertikai, tetapi juga dapat mengancam keselamatan masyarakat sipil dan stabilitas ekonomi internasional.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, mengaku sangat prihatin dengan kembali memanasnya situasi di kawasan Teluk setelah Washington mengumumkan akan memberlakukan kembali blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di Selat Hormuz.
“China sangat prihatin atas dimulainya kembali konflik militer di wilayah Teluk,” kata Lin Jian kepada wartawan di Beijing.
Ia meminta seluruh pihak terkait mendengarkan seruan internasional untuk menjaga perdamaian dan tidak memperburuk keadaan.
Lin menegaskan pihak-pihak yang terlibat harus tetap tenang, menahan diri, mempertahankan gencatan senjata yang telah susah payah dicapai, serta menghindari pecahnya perang kembali.
“Penghormatan terhadap hak dan kepentingan sah negara-negara pesisir Selat Hormuz, dan dimulainya kembali pelayaran normal dan aman di selat tersebut secepat mungkin, adalah apa yang ingin dilihat oleh komunitas internasional,” ujarnya.
Lin juga menekankan bahwa semua pihak perlu bekerja bersama untuk mencari penyelesaian yang tepat agar konflik tidak terus bereskalasi.
Baca Juga: Daftar Kejahatan Perang Amerika Serikat Kembali Bertambah, Ini Klaim Pemerintah Iran
“Pihak-pihak terkait perlu bekerja ke arah yang sama dan mencapai penyelesaian yang tepat,” katanya.
Pernyataan China muncul ketika konflik antara AS dan Iran kembali meningkat. Kedua negara terus melanjutkan serangan militer, sementara ketegangan di Selat Hormuz semakin membesar akibat serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut.
Eskalasi terbaru ini terjadi setelah perang yang dilancarkan AS bersama Israel terhadap Iran sejak 28 Februari. Meski sebelumnya Washington dan Teheran sempat menandatangani nota kesepahaman di Islamabad, termasuk gencatan senjata yang dimediasi Qatar dan Pakistan sebagai langkah menuju kesepakatan damai, situasi kembali berubah.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 8 Juli bahkan mengumumkan bahwa gencatan senjata tersebut telah berakhir setelah permusuhan kembali terjadi. Pernyataan itu menandai babak baru meningkatnya ketegangan yang kini kembali menjadi perhatian dunia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: