Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Diakui Wakilnya Trump, Israel Gunakan 'Buzzer' untuk Ganggu Jalan Negosiasi Iran-Amerika

        Diakui Wakilnya Trump, Israel Gunakan 'Buzzer' untuk Ganggu Jalan Negosiasi Iran-Amerika Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) James David Vance mengungkap adanya dugaan kampanye pengaruh yang didanai untuk menggagalkan upaya negosiasi antara Washington dan Teheran. Hal itu menurutnya dilakukan oleh unsur-unsur dalam pemerintahan dari Israel.

        Ia mengaku menjadi sasaran serangan politik karena mendukung agenda negosiasi yang diarahkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Pernyataan tersebut disampaikannya saat diwawancarai podcaster konservatif Joe Rogan.

        Baca Juga: Beragam Skenario Disiapkan Jokowi untuk Gibran, Salah Satunya 'Prabowo Tak Bisa Lanjut Memimpin'

        "Anda melihat ada kampanye yang sangat terselubung dan didanai dengan sangat besar untuk mencoba menggagalkan negosiasi dan menggagalkan kesepakatan," kata Vance, dikutip Kamis (16/7).

        Menurutnya, sebuah laporan majalah Time mengungkap adanya mantan anggota tim kampanye presiden yang menerima pendanaan dari pihak-pihak tertentu dalam pemerintahan dari Israel. Dana tersebut kemudian digunakan untuk membangun opini yang menyerang dirinya karena mendukung jalur diplomasi.

        "Ada artikel yang terbit kemarin. Artikel itu menyebut sejumlah orang dibayar oleh mantan anggota tim kampanye presiden yang juga dibayar oleh unsur-unsur tertentu dalam pemerintah Israel. Orang-orang itu menyerang saya habis-habisan karena mencoba mewujudkan tujuan negosiasi yang ditetapkan presiden," ujarnya.

        Vance mengatakan serangan terhadap dirinya dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari unggahan di media sosial hingga penyebaran informasi kepada wartawan.

        "Mereka menyerang saya tanpa henti dengan mengatakan bahwa kami seharusnya tidak bernegosiasi dengan Iran. Mereka ingin kampanye militer terus berlanjut tanpa batas waktu," katanya.

        Meski demikian, Vance mengaku tidak mempermasalahkan apabila negara lain berupaya memengaruhi kebijakan negaranya karena hal tersebut merupakan praktik yang lazim dalam hubungan internasional.

        Namun, ia menegaskan yang menjadi persoalan adalah ketika pengaruh tersebut memengaruhi penilaian dan keputusan para pemimpin dari Amerika.

        "Israel melakukannya. Negara lain juga melakukannya. Yang mengganggu saya adalah ketika para pemimpin membiarkan pengaruh itu memengaruhi penilaian dan apa yang mereka perjuangkan," tegasnya.

        Vance juga membantah berbagai tudingan yang menyebut dirinya dipengaruhi pemerintah asing maupun tokoh politik tertentu.

        "Orang-orang mengatakan saya dipengaruhi pemerintah asing, atau menerima arahan dari Tucker Carlson. Semua itu omong kosong," ujarnya.

        Ia menegaskan tetap akan menjalankan kebijakan yang menurutnya terbaik bagi kepentingan nasional dari Amerika Serikat. Keputusannya terlepas dari tekanan politik yang datang dari berbagai pihak.

        "Saat saya membuka halaman majalah dan melihat ada kampanye pengaruh asing yang benar-benar didanai untuk menggagalkan kesepakatan yang sedang saya perjuangkan, sementara banyak penerima dana itu menyerang saya dengan cara yang tidak jujur, respons saya sederhana: pergi sana. Saya akan melakukan apa yang harus saya lakukan untuk rakyat Amerika. Saya mewakili kepentingan Amerika terlebih dahulu," kata Vance.

        Di akhir pernyataannya, ia kembali menegaskan keyakinannya soal Israel. Menurutnya, terdapat pihak-pihak di dalam sistem pemerintahan negara itu yang secara aktif berusaha membentuk opini publik negaranya agar melanjutkan perang dengan Iran.

        "Ada beberapa orang di dalam sistem pemerintahan mereka yang kami yakini tanpa keraguan sedang memanipulasi dan mencoba mengubah opini publik kita agar perang berlangsung tanpa batas waktu," ujarnya.

        Baca Juga: Bocoran Susunan 'Tim Sembilan' Kejagung Pengusut Kasus Febrie Adriansyah, Banyak Alumni dari KPK

        Pernyataan Vance menjadi sorotan karena menunjukkan adanya perbedaan pandangan di tengah sekutu dekat negaranya mengenai pendekatan terhadap Iran. Di satu sisi, pemerintah masih membuka ruang negosiasi, sementara menurutnya terdapat pihak-pihak yang mendorong agar berlanjutnya tekanan militer terhadap Teheran.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: