Trump Siapkan Wakilnya untuk Dijadikan Kambing Hitam Bencana Perang Iran-Amerika
Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance kini berada di garis depan upaya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Namun posisi itu justru dinilai membuatnya menjadi sosok yang paling mudah disalahkan jika kesepakatan tersebut gagal.
Vance mengambil peran utama dalam negosiasi dan menjadi pejabat dengan keterlibatan paling tinggi dalam kontak langsung dengan Iran. Namun, perannya memicu kontroversi di dalam negeri karena ia harus membela paket kesepakatan yang mencakup pelonggaran sanksi dan pencairan sebagian aset Iran.
Baca Juga: '3000 Tahun Tanpa Perdamaian,' Trump Klaim Tenangkan Timur Tengah Lewat Kesepakatan Iran-Amerika
“Jika ini berhasil, saya akan mengambil kreditnya. Jika tidak berhasil, saya akan menyalahkan JD," ungkap Trump, dikutip dari The Guardian, Jumat (26/6).
Pernyataan Donald Trump itu dianggap sebagai sinyal jelas bahwa wakilnya telah diposisikan sebagai penanggung risiko politik atas nasib negosiasi Iran-Amerika.
Situasi ini dinilai ironis karena Vance sebelumnya dikenal sebagai salah satu tokoh Partai Republik yang paling vokal menentang “perang tanpa akhir” Amerika di Timur Tengah. Mantan koresponden tempur di Irak itu justru harus membela intervensi militer terbesar AS di kawasan dalam beberapa dekade terakhir setelah pemerintahan Trump melancarkan operasi terhadap Iran pada Februari lalu.
Sejumlah sumber di Washington menyebut Vance sebenarnya tidak nyaman dengan arah kebijakan tersebut. Namun, ia tetap memilih mendukung Presiden Trump dan kini menjadi ujung tombak penjualan kesepakatan damai kepada publik Amerika.
“Ini bukan alasan dia bergabung ke pemerintahan. Tapi dia memilih tetap berada di belakang Trump,” kata seorang mantan kolega Vance di Senat.
Peran Vance dalam negosiasi Iran juga disebut berdampak pada prospek politiknya menjelang pemilu presiden 2028. Sebelumnya ia dianggap kandidat terkuat Partai Republik setelah Trump, tetapi posisinya disebut mulai tergerus oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio yang dinilai lebih diterima kelompok hawkish dan pro-Israel.
Vance kini harus menjelaskan kepada basis Partai Republik mengapa ia mendukung kesepakatan yang memberikan insentif ekonomi kepada Iran, sementara sebagian elite partai menganggap Teheran tidak bisa dipercaya.
Posisi Vance juga makin sulit karena pesan yang disampaikan Gedung Putih kerap berubah-ubah. Saat Vance mempromosikan diplomasi, Trump beberapa kali kembali mengancam Iran dengan serangan baru dan retorika keras lainnya.
Vance diketahui berusaha meredam pernyataan Trump dan menjelaskan bahwa negosiasi tetap berjalan. Ia bahkan secara terbuka mengkritik pendekatan sebagian politisi Israel yang menurutnya terlalu mengandalkan kekuatan militer.
“Anda tidak bisa menyelesaikan setiap masalah keamanan nasional hanya dengan membunuh,” kata Vance.
Meski Vance mengklaim negosiasi telah menghasilkan fondasi penting untuk perdamaian, sejumlah isu besar masih belum terselesaikan, termasuk program nuklir Iran, pengawasan internasional dan masa depan sanksi ekonomi.
Baca Juga: Perlawanan Terpecah, Dokter Tifa dan Roy Suryo Berjalan Masing-masing di Kasus Ijazah Jokowi
Bagi Vance, keberhasilan perundingan ini bukan hanya soal kebijakan luar negeri, tetapi juga soal masa depan politiknya sendiri. Jika kesepakatan bertahan, ia bisa mengklaim berhasil mengakhiri konflik dan mengembalikan citranya sebagai tokoh anti-intervensi. Namun jika gagal, ancaman Trump untuk “menyalahkan JD” berpotensi menjadi beban politik yang terus melekat hingga pemilu berikutnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: