Kredit Foto: Instagram/Basuki Tjahaja Purnama
Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengungkapkan keinginannya untuk menjadi Presiden Republik Indonesia. Meski mengaku sudah tidak memiliki ambisi politik praktis seperti kembali menjabat sebagai kepala daerah, Ahok menyebut jabatan presiden merupakan satu-satunya posisi yang memiliki kekuatan besar untuk membenahi negara.
Pernyataan itu disampaikan Ahok saat berbincang dalam podcast Helmy Yahya Bicara yang tayang pada Senin (27/7/2026). Ia awalnya ditanya mengenai langkah yang menurutnya paling efektif untuk memperbaiki kondisi Indonesia.
"Gua tahu secara logika gua enggak (mungkin) jadi presiden. Tapi kalau lu tanya sama gua, apa yang lu paling pengin untuk perbaiki negeri ini? Situasi sekarang mau perbaiki negeri ini tinggal satu jabatan, namanya presiden," ujar Ahok.
Namun, Ahok menyadari keinginannya tersebut sulit diwujudkan karena sistem politik Indonesia tidak memungkinkan seseorang maju sebagai calon presiden secara independen. Menurut dia, calon presiden harus mendapatkan dukungan dari partai politik.
"Tapi mau jadi presiden enggak bisa independen, Bos. Harus dicalonkan oleh partai politik. Dan secara manusia kan enggak mungkin," katanya.
Ahok menilai seorang presiden yang memiliki integritas dan mampu menjalankan pemerintahan dengan baik dapat membawa perubahan besar bagi sebuah negara. Ia menyebut perbaikan tata kelola sumber daya alam, kebijakan subsidi energi, hingga pemberantasan korupsi sebagai sejumlah hal yang perlu dibenahi.
Dalam kesempatan itu, Ahok juga membahas soal citra dirinya yang selama ini kerap dikaitkan dengan sikap keras dan mudah marah. Ia mengakui pernah memiliki kekurangan dalam cara merespons berbagai persoalan.
Menurut Ahok, pengalaman menjalani masa hukuman penjara memberinya waktu untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki diri.
"Ya, gua cuma berpikir gini, aku salah terlalu cepat respons. Aku sadar, makanya sekarang aku perbaiki," ujarnya.
Ahok bahkan menyebut pengalaman tersebut menjadi momen penting dalam hidupnya. Ia menilai dirinya mendapatkan kesempatan untuk merenungkan banyak hal.
Ahok juga membandingkan persoalan gaya komunikasi pejabat dengan perilaku korupsi. Menurut dia, sikap keras atau cara bicara yang dianggap kasar masih dapat diperbaiki, berbeda dengan perilaku korup yang dinilainya lebih sulit diubah.
Baca Juga: Kini Dingin, Ahok Cerita Soal Jokowi dan Puncak Kekecewaannya
"Nah, kita sadar betul kalau orang sudah korupsi dia sudah berani langgar sumpah jabatan. Tuhan aja dianggap main-main kok," ujar Ahok.
Meski mengaku memiliki banyak pihak yang tidak menyukainya, Ahok menyatakan dirinya tidak takut menghadapi berbagai penolakan selama merasa menjalankan prinsip yang benar.
"Lah gua berani karena gua yakin gua bersih. Akhirnya Tuhan nolong gua toh," tuturnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: