Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rupiah Melemah ke Rp18.105 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Asia dengan Kinerja Terburuk Tahun Ini

        Rupiah Melemah ke Rp18.105 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Asia dengan Kinerja Terburuk Tahun Ini Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mengutip Reuters, hingga pukul 02.06 GMT, rupiah diperdagangkan di level Rp18.105 per dolar AS atau melemah 0,28% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp18.055 per dolar AS.

        Pelemahan tersebut semakin menegaskan posisi rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia sepanjang tahun ini. Sejak awal 2026, nilai tukar rupiah telah terdepresiasi sekitar 7,93% terhadap dolar AS.

        Di kawasan Asia, tekanan juga dialami dolar Taiwan yang melemah 0,34% ke level 32,495 per dolar AS. Namun, secara year-to-date, pelemahan mata uang Taiwan masih berada di kisaran 3,25%, jauh lebih rendah dibandingkan depresiasi rupiah.

        Sementara itu, pergerakan mata uang utama Asia lainnya cenderung lebih stabil bahkan menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang naik 0,07% menjadi 163,70 per dolar AS, baht Thailand menguat 0,07% ke level 33,53 per dolar AS, sedangkan ringgit Malaysia terapresiasi 0,10% menjadi 4,085 per dolar AS.

        Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan ketidakpastian ekonomi dalam negeri usai pengunduran diri Perry Warjiyo secara mendadak sempat direspons negatif oleh pasar. Ini karena dalam jangka pendek meningkatkan ketidakpastian pasar akibat transisi kepimpinan yang baru di tengah depresiasi nilai tukar rupiah, derasnya outflow dana asing serta potensi tren kenaikan suku bunga global. 

        Baca Juga: Rupiah Melemah di Atas Rp18.000, Pasar Masih Respons Negatif Pengunduran Diri Perry Warjiyo

        Baca Juga: Rupiah Ditutup Loyo ke Rp18.000 per USD Usai Gubernur BI Perry Warjiyo Mengundurkan Diri

        Namun, penunjukan Destry Damayanti memberi optimisme pasar akan komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan laju inflasi, serta mempertahankan stabilitas sistem keuangan yang berkelanjutan. 

        Selanjutnya, kata Ibrahim, perhatian pasar akan tertuju pada penunjukkan Gubernur BI yang definitif. Penunjukkan Gubernur BI yang baru yang sesuai dengan harapan pasar serta transisi kepemimpinan yang berjalan lancar, diharapkan dapat menjaga kredibilitas dan independensi bank sentral dalam menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. 

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: