Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.114 per Dolar AS, Pasar Masih Cermati Ketidakpastian Pengganti Perry Warjiyo
Kredit Foto: Antara/Reno Esnir
Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (30/7/2026). Mata uang Garuda berada di level Rp18.114 per dolar AS, turun 41 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di posisi Rp18.073 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah masih dipengaruhi sikap hati-hati pelaku pasar yang mencermati proses pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia (BI) setelah pengunduran diri Gubernur BI Perry Warjiyo.
“Pasar juga fokus terhadap ketidakpastian mengenai suksesi pimpinan bank sentral setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri,” ujar Ibrahim dalam keterangannya.
Selain isu pergantian pucuk pimpinan BI, Ibrahim menilai rupiah juga mendapat tekanan dari kondisi fiskal daerah serta hambatan ekspor komoditas mineral yang masih membayangi sentimen pasar.
Menurutnya, investor kini juga tengah menunggu sejumlah data ekonomi domestik yang akan dirilis pada pekan depan sebagai acuan arah pergerakan pasar.
“Selain itu, pelaku pasar juga bersiap menyambut rilis data domestik penting pekan depan, termasuk data inflasi bulan Juli, data perdagangan bulan Mei, cadangan devisa dan PDB kuartal kedua serta Indek Kepercayaan Konsumen (IKK),” jelasnya.
Di sisi lain, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia juga menjadi perhatian. Sejumlah ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 hanya akan berada di kisaran 4,8 hingga 4,9 persen, lebih rendah dibandingkan realisasi kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen.
“Perlambatan ini dipicu tekanan dari tingginya biaya produksi akibat gejolak global, pengetatan kebijakan moneter, hingga ketidakpastian tata kelola fiskal di dalam negeri,” ucapnya.
Sementara itu, angka pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan pada tahun 2026 diprediksi akan berada di kisaran 4,9% hingga 5,1%.
Proyeksi pertumbuhan setahun penuh itu juga berada di bawah target pemerintah yang mencapai 5,4%.
Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah Tipis Meski The Fed Tahan Suku Bunga Acuan
Baca Juga: BI Perkuat Bauran Kebijakan untuk Jaga Stabilitas Rupiah di Tengah Ketidakpastian Global
Selain itu, lembaga peringkat internasional yakni S&P Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi RI Sekitar 5% dari 2027 hingga 2029
Di tengah berbagai tantangan tersebut, pemerintah terus mendorong sinergi dengan dunia usaha guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sebagai respons terhadap tekanan global dan pelemahan nilai tukar rupiah.
“Seskab dan Kadin Bahas Penguatan Sinergi Pemerintah-Dunia Usaha Dorong Pertumbuhan Ekonomi Sebagai respons atas tekanan global dan anjloknya nilai tukar rupiah,” pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Cita Auliana
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: