- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Su-re.co Inisasi Penthahelix Dialogue Pemanfaatan Biogas di Berbagai Pelosok Desa
Kredit Foto: Istimewa
Indonesia diharapkan terus mengembangkan pemanfaatan biogas sebagai salah satu sumber energi baru terbarukan (EBT) guna mempercepat transisi energi nasional sekaligus mendukung pencapaian target bauran energi terbarukan
Researcher dari Su-re.co (PT Sustainability and Resilience), Fabian Peri Wiropranoto, mengatakan pengembangan biogas akan memberikan manfaat luas dan menciptakan nilai tambah secara lingkungan, ekonomi, dan sosial. Menurutnya, pemanfaatan biogas mampu menghasilkan energi bersih, menciptakan lapangan kerja, serta membuka peluang pengembangan ekonomi lokal termasuk sektor agrowisata.
“Kenapa kita memilih biogas untuk pengembangan energi terbarukan di pedesaan? Karena biogas memiliki banyak manfaat mulai dari kesehatan hingga ekonomi sirkular. Biogas itu mengonversi limbah organik menjadi energi yang bernilai tambah,” katanya dalam kegiatan Pentahelix Dialogue: Mainstreaming Renewable Energy yang digelar di Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Fabian menjelaskan, pemanfaatan energi yang dihasilkan dari pengolahan limbah organik tersebut dapat menjadi solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi oleh masyarakat pedesaan. Berdasarkan kajian su-re.co di tiga wilayah yakni Bajawa, Sumba, dan Bali, masyarakat di desa masih bergantung pada kayu bakar sebagai sumber energi utama untuk memasak.
Kondisi tersebut memberikan dampak negatif seperti beban waktu untuk mencari kayu bakar serta risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap. su-re.co mencatat sebanyak 98% rumah tangga di Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami gangguan kesehatan yang berkaitan dengan paparan asap dari aktivitas memasak dengan menggunakan kayu bakar.
“Di pedesaan masih jarang ditemukan energi bersih sehingga menimbulkan banyak masalah terkait kesehatan hingga emisi. Padahal di pedesaan banyak sekali bahan baku biogas berupa limbah pertanian dan peternakan,” ujarnya.
Dalam konteks makro ia menilai ia meyakini pemanfaatan biogas akan membantu Indonesia dalam mencapai target bauran energi baru terbarukan pada tahun 2026 ini yang sebesar 17-21% dari total bauran energi nasional.
Selain itu, pengembangan biogas akan berkontribusi positif dalam mengurangi beban subsidi LPG hingga sekitar Rp1,4 triliun per tahun. Pengembangan biogas juga berpotensi untuk menjangkau sebanyak 12,05 juta rumah tangga dan 75.265 desa di seluruh wilayah Indonesia.
Fabian mengharapkan terjadi kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan pemanfaatan biogas sebagai sumber energi terbarukan. Ia menegaskan, kunci kesuksesan transisi energi ada di kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media.
Saat ini terdapat beberapa tantangan untuk meningkatkan skala adopsi biogas di Indonesia seperti masih bergantung pada sistem pendanaan hibah, kapasitas teknis dan kelembagaan desa masih terbatas, dukungan dari pemerintah daerah masih minim, hingga pemahaman publik atas biogas sebagai energi bersih masih rendah.
“Kami berharap pengembangan biogas bersifat bottom-up atau dari bawah ke atas. Kami sudah melakukan komunikasi dengan mitra lokal, pihak desa, hingga pemerintah daerah, agar biogas ini bisa dikembangkan di desa-desa,” paparnya.
Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Samsul Widodo, mengatakan pihaknya sangat mendukung penuh pengembangan energi terbarukan di desa. Bahkan, ia mendorong agar pengembangan energi terbarukan seperti biogas bisa mengoptimalkan potensi dana desa.
Samsul Widodo mengingatkan, akses terhadap energi baik listrik maupun gas merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang perlu dipenuhi oleh negara. Oleh karena itu, pengembangan energi di wilayah yang belum memiliki akses memadai terhadap energi perlu menjadi perhatian bersama.
“Saya berharap setiap daerah mampu mengoptimalkan potensi energi terbarukan di masing-masing wilayah. Misalnya, biogas itu memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena banyak sekali desa yang memiliki peternakan dan pertanian,” paparnya.
Ia menegaskan, desa memiliki sumber pendanaan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan energi terbarukan yakni dana desa. Menurutnya, tantangan utama saat ini bukan hanya ketersediaan anggaran melainkan peningkatan kapasitas dan pengetahuan masyarakat mengenai potensi energi terbarukan.
“Dari sisi desa itu ada dana desa. Mereka punya uang untuk mengoptimalkan potensi tersebut. Yang dibutuhkan desa adalah pengetahuan terkait potensi energi terbarukan tersebut,” tegasnya.
Hal senada disampaikan oleh Plh. Koordinator dari Direktorat Energi Terbarukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Erick Ta'dung, yang mengatakan bahwa desa memiliki bahan baku melimpah untuk pengembangan biogas seperti limbah ternak, limbah pertanian dan perkebunan, serta limbah rumah tangga.
Erick Ta'dung mendorong terjadinya kolaborasi dalam pengembangan biogas mulai dari pemerintah, produsen energi dan industri pertanian, lembaga keuangan, akademisi dan penelitian, serta berbagai mitra kerja sama.
“Perlu ada sinergi antara pemerintah pusat dan daerah untuk merumuskan kebijakan, peraturan, standar, pedoman, dan pengawasan, serta memfasilitasi pengembangan biogas. Kemudian dari sisi industri perlu membangun dan mengoperasikan fasilitas untuk meningkatkan kualitas biogas”, tutup Erick Ta’dung.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Redaksi
Tag Terkait: