Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        RAAM Bukukan Laba Operasional pada Semester I 2026, Pendapatan Tumbuh 14,7%

        RAAM Bukukan Laba Operasional pada Semester I 2026, Pendapatan Tumbuh 14,7% Kredit Foto: Unsplash/Jeremy Yap
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Tripar Multivision Plus Tbk (RAAM) mencatatkan pemulihan kinerja operasional pada semester I 2026. Perseroan membukukan laba operasional setelah didukung peningkatan pendapatan dari bisnis film, monetisasi pustaka konten, serta langkah optimalisasi struktur permodalan.

        Sepanjang Januari–Juni 2026, RAAM membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp128,6 miliar atau meningkat 14,7% dibandingkan Rp112,1 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Laba kotor melonjak 91,2% menjadi Rp52,6 miliar dengan margin laba kotor meningkat menjadi 40,9% dari sebelumnya 24,5%.

        Di saat yang sama, beban umum dan administrasi berhasil ditekan 15,6%, sehingga Perseroan membalikkan posisi dari rugi operasional Rp27,3 miliar pada semester I 2025 menjadi laba operasional sebesar Rp6,3 miliar pada semester I 2026.

        Berdasarkan laba operasional sebelum depresiasi dan amortisasi, RAAM mencatat estimasi EBITDA sekitar Rp16,9 miliar pada semester pertama tahun ini. Kinerja tersebut terutama ditopang oleh perbaikan signifikan pada kuartal II, ketika pendapatan meningkat menjadi sekitar Rp80,4 miliar dengan EBITDA mencapai sekitar Rp22,2 miliar, setelah sebelumnya masih mencatat rugi EBITDA pada kuartal I.

        Kontributor utama pertumbuhan tetap berasal dari bisnis film. Pendapatan dari segmen ini naik 30,4% secara tahunan menjadi Rp74,4 miliar, didukung performa penayangan bioskop di dalam maupun luar negeri. Film Cerita Lila berhasil menembus satu juta penonton di Indonesia, sementara Sengkolo 2 mencatat hasil di atas ekspektasi di Malaysia sehingga turut meningkatkan pendapatan box office internasional. Selain itu, RAAM juga memperoleh pendapatan Rp6,75 miliar dari produksi serial televisi.

        Perseroan juga membukukan peningkatan pendapatan dari monetisasi pustaka konten yang dimiliki. Portofolio kekayaan intelektual RAAM dimanfaatkan melalui berbagai kanal distribusi, mulai dari televisi, platform digital, perjanjian lisensi hingga saluran distribusi lainnya. Manajemen menilai bisnis pustaka konten akan menjadi salah satu sumber pendapatan berulang yang semakin penting ke depan.

        Direktur dan Chief Financial Officer RAAM, Vikas Chand Sharma, mengatakan hasil semester pertama menunjukkan fundamental operasional Perseroan semakin kuat.

        "Hasil semester pertama ini menunjukkan bahwa fundamental operasional RAAM semakin kuat. Perbaikan performa penayangan film kami, ditambah monetisasi pustaka konten yang lebih tinggi, mendorong pemulihan signifikan pada laba kotor dan EBITDA."

        Menurutnya, Perseroan juga terus meningkatkan efisiensi struktur permodalan melalui penurunan pinjaman sehingga beban bunga dapat ditekan.

        "Di sisi lain, kami juga mengambil langkah-langkah tegas untuk meningkatkan efisiensi struktur permodalan. Dengan menurunkan pinjaman dan menekan beban bunga berulang, kami membangun fondasi keuangan yang lebih kuat untuk berinvestasi pada konten, memperluas jaringan bioskop, dan menangkap peluang pertumbuhan jangka panjang industri hiburan Indonesia."

        Baca Juga: RAAM Perkuat Ekspansi Bisnis Konten dan Bioskop Usai Film Cinta Lila Raih 1 Juta Penonton

        Sebagai bagian dari strategi tersebut, RAAM telah melepas kepemilikan sahamnya di PT Ciputra Multivision Nusantara. Dana hasil transaksi digunakan untuk mengurangi pinjaman bank dan diperkirakan dapat menekan beban bunga tahunan sekitar Rp11 miliar.

        Langkah ini membuat utang bersih Perseroan turun menjadi sekitar Rp304,4 miliar per Juni 2026 dari Rp403 miliar pada akhir Maret 2026. Rasio utang bersih terhadap ekuitas juga membaik menjadi 24,7% dibandingkan 31,3% pada akhir kuartal pertama.

        Meski demikian, divestasi tersebut menimbulkan kerugian non-operasional yang bersifat satu kali sekitar Rp64 miliar dan dicatat dalam pos pendapatan serta beban lain-lain. Dampaknya, RAAM membukukan rugi bersih sebesar Rp64,8 miliar pada semester I 2026. Manajemen menegaskan kerugian tersebut merupakan dampak akuntansi yang tidak berulang dan berasal dari transaksi yang justru bertujuan memperkuat struktur neraca Perseroan.

        Memasuki semester II 2026, RAAM akan berfokus menjaga konsistensi jadwal rilis film, meningkatkan monetisasi pustaka kekayaan intelektual, memperluas distribusi regional, serta meningkatkan produktivitas jaringan bioskop dan bisnis makanan-minuman.

        Perseroan juga memperkirakan penurunan pinjaman bank akan semakin berdampak terhadap efisiensi biaya pendanaan. Bersama dengan perbaikan margin laba kotor dan pengendalian biaya, kondisi tersebut diharapkan mampu memperkuat profitabilitas dan arus kas pada periode-periode berikutnya.

        Selain itu, RAAM akan terus mengevaluasi peluang ekspansi jaringan bioskop, khususnya di kota-kota dengan tingkat penetrasi layar yang masih rendah. Setiap keputusan investasi akan dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan permintaan lokal, tingkat okupansi, dan potensi imbal hasil.

        Direktur Utama RAAM, Ram Jethmal Punjabi, mengatakan momentum bisnis Perseroan tetap positif seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap film lokal.

        "Minat masyarakat Indonesia terhadap konten produksi lokal terus tumbuh, dan performa rilis-rilis terbaru kami memperkuat keyakinan kami atas potensi jangka panjang pasar ini. RAAM memasuki semester kedua dengan momentum operasional yang lebih kuat, neraca yang lebih efisien, dan strategi yang jelas untuk mengembangkan kekayaan intelektual bernilai tinggi lewat berbagai kanal distribusi."

        "Tujuan kami adalah membangun franchise dan aset pustaka konten yang terus menghasilkan nilai sepanjang siklus komersialnya, mulai dari bioskop dan distribusi regional hingga televisi, platform digital, serta peluang lisensi di masa depan."

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Istihanah
        Editor: Istihanah

        Bagikan Artikel: