Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Berpeluang Sentuh 6.400 Usai Rebalancing MSCI

        IHSG Berpeluang Sentuh 6.400 Usai Rebalancing MSCI Kredit Foto: Antara/Galih Pradipta
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi kembali menguat pada perdagangan Kamis (13/8/2026) setelah pasar merespons hasil rebalancing Morgan Stanley Capital International (MSCI).

        Dalam riset hariannya, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak dengan level resistance 6.400, pivot 6.350, dan support 6.270.

        Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup menguat tajam 1,69% ke posisi 6.373,85. Kenaikan tersebut membawa indeks kembali berada di atas sejumlah rata-rata pergerakan, mulai dari MA5 hingga MA50. IHSG juga masih mampu menjaga posisinya di atas area 6.250–6.270.

        Phintraco Sekuritas menilai level 6.400 berpeluang menjadi sasaran kenaikan berikutnya. Namun, pergerakan indeks diperkirakan belum sepenuhnya stabil karena pasar masih dihadapkan pada beragam sentimen.

        "IHSG hari ini berpotensi menguji level 6.400, namun sentimen yang variatif berpeluang membuat indeks bergerak mixed,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.

        Hasil rebalancing MSCI Agustus 2026 turut menjadi perhatian investor. Dalam kelompok MSCI Global Standard Index, dua saham Indonesia, yakni GOTO dan CPIN, harus keluar dari daftar konstituen.

        Sementara pada kelompok MSCI Small Cap Index, CPIN justru mendapatkan tempat. Namun, sembilan saham Indonesia lainnya harus meninggalkan indeks tersebut, yaitu ARTO, BUKA, ESSA, FILM, HEAL, KPIG, RATU, SMGR, dan TCPI.

        Perubahan tersebut berpotensi memengaruhi arus dana dan aktivitas perdagangan pada saham-saham yang terdampak penyesuaian indeks.

        Dari dalam negeri, perhatian investor selanjutnya akan tertuju pada agenda Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo Subianto pada Jumat (14/8/2026).

        Dalam agenda tersebut, pemerintah akan menyampaikan RUU APBN 2027 beserta Nota Keuangan. Menurut Phintraco Sekuritas, penyampaian ini akan memberikan gambaran mengenai arah kebijakan fiskal pemerintah pada tahun depan.

        Pelaku pasar berharap anggaran pemerintah dapat digunakan secara lebih optimal dan efisien. Investor juga mencermati upaya pemerintah menjaga defisit RAPBN 2027 pada kisaran 1,8% hingga 2,4% dari PDB.

        Baca Juga: Dua Saham RI Didepak dari MSCI, 9 Emiten Ikut Kehilangan Status

        Baca Juga: Saham RI Dikabarkan Absen dari Indeks MSCI, Ini Respons Bos BEI

        Baca Juga: Demutualisasi BEI Bakal Ditempuh Lewat Jalur Private Placement

        Dari luar negeri, pasar akan mendapatkan sejumlah data ekonomi penting. Inggris dijadwalkan merilis pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026. 

        Secara tahunan, ekonomi Negeri Ratu Elizabeth tersebut diperkirakan tumbuh 1,1%, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 0,9%. Namun secara kuartalan, pertumbuhan diproyeksikan melambat menjadi 0,4% dari 0,6%.

        Sementara dari kawasan Euro, investor menanti data produksi industri Juni 2026 yang diperkirakan masih mencatat kontraksi 0,8% secara tahunan. Angka tersebut diperkirakan membaik dibandingkan kontraksi 1,2% pada Mei.

        Dari Amerika Serikat, perhatian pasar tertuju pada data inflasi produsen atau PPI Juli 2026. Data tersebut diperkirakan menunjukkan perlambatan menjadi 4,9% secara tahunan dari 5,5% pada Juni.

        Di tengah berbagai sentimen tersebut, Phintraco Sekuritas memasukkan PTRO, TPIA, BRPT, BMRI, dan BBCA sebagai saham yang menarik untuk strategi trading.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dian Ihsan
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: