Kredit Foto: Andi Hidayat
Direktur Rumah Politik Indonesia Fernando Emas menilai Dedi Mulyadi lebih berpeluang memenangkan Pilpres 2029 jika dipasangkan dengan figur yang diusung PDI Perjuangan, seperti Ganjar Pranowo atau Pramono Anung, dibandingkan dengan Anies Baswedan.
Menurut Fernando, faktor latar belakang etnis masih menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden.
Ia menilai pasangan Anies Baswedan-Dedi Mulyadi justru dapat memperkecil peluang kemenangan dalam Pilpres 2029.
"Walaupun Anies lahir dan besar di Yogyakarta, namun karena mayoritas penduduk Indonesia suku Jawa maka pasangan yang lebih dipilih adalah capres bersuku Jawa," kata Fernando Emas kepada Warta Ekonomi.
Fernando mengatakan elektabilitas Dedi Mulyadi yang dalam survei terbaru SMRC mengungguli Prabowo Subianto seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman. Menurut dia, tingginya elektabilitas Dedi justru dapat menjadi modal politik untuk membangun koalisi menuju Pilpres 2029.
"Apabila Dedi Mulyadi kembali ke Partai Golkar, maka akan lebih tepat kalau Dedi Mulyadi berpasangan dengan capres yang diusung oleh PDI Perjuangan seperti Ganjar Pranowo atau Pramono Anung," ujar Fernando.
Ia menilai peluang Dedi untuk mendapatkan tawaran dari partai politik lain juga semakin terbuka apabila elektabilitasnya terus meningkat.
"Kalau elektabilitas Dedi Mulyadi akan terus meningkat, maka akan sangat mungkin dilamar oleh partai lain untuk diusung menjadi capres atau cawapres 2029," jelasnya.
Sebelumnya, survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis pada 29 Juli menunjukkan elektabilitas Dedi Mulyadi berada di atas Prabowo Subianto.
Dalam simulasi semi terbuka dengan 20 nama calon presiden, Dedi Mulyadi memperoleh elektabilitas 35 persen. Sementara itu, Prabowo Subianto memperoleh 14,5 persen.
Anies Baswedan berada di posisi ketiga dengan elektabilitas 8,2 persen. Selanjutnya Gibran Rakabuming Raka memperoleh 7,7 persen, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 4,9 persen, Ganjar Pranowo 4,2 persen, dan Mahfud MD 4 persen.
Sebanyak 12,8 persen responden lainnya belum menentukan pilihan atau tidak memberikan jawaban. Hasil survei tersebut menjadi perhatian karena Dedi Mulyadi dan Prabowo sama-sama memiliki keterkaitan dengan Partai Gerindra.
Fernando sebelumnya menilai posisi tersebut semestinya tidak dianggap sebagai ancaman, melainkan peluang bagi Gerindra untuk menjaga soliditas dan mempertahankan figur-figur dengan elektabilitas tinggi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat