Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Polemik Upah Kupas Bawang 700 Ribu Per Kilo Berlanjut, 'Prabowo Tak Pernah Tahu Rasanya Lapar dan Utang Sembako di Warung'

        Polemik Upah Kupas Bawang 700 Ribu Per Kilo Berlanjut, 'Prabowo Tak Pernah Tahu Rasanya Lapar dan Utang Sembako di Warung' Kredit Foto: BPMI
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Mantan pengacara Roy Suryo, Ahmad Khozinudin menyoroti pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai upah pekerjaan mengupas bawang yang disebut mencapai Rp700 ribu per kilogram

        Ia mempertanyakan kewajaran angka tersebut dan menilai pernyataan itu menunjukkan adanya jarak antara pemerintah dengan kondisi ekonomi masyarakat.

        Pernyataan mengenai upah pengupas bawang tersebut disampaikan Prabowo dalam sebuah pidato di Sidang Tahunan MPR di Gedung DPR RI. Dalam kesempatan itu, Presiden juga menghadirkan seorang perempuan bernama Susana yang disebut berprofesi sebagai pengupas bawang.

        Khozinudin kemudian menghitung potensi pendapatan berdasarkan angka yang disebutkan tersebut. Jika seseorang mampu mengupas 10 kilogram bawang per hari dengan upah Rp700 ribu per kilogram, pendapatannya disebut mencapai Rp7 juta per hari.

        "Dengan upah Rp700 ribu per kilo, jika sehari bisa mengupas 10 kilo, berarti sehari Susana bergaji Rp7 juta. Satu bulan, Susana bisa kantongi gaji Rp210 juta," tulis Khozinudin.

        Ia bahkan membuat perhitungan lebih jauh dengan mengasumsikan pekerjaan tersebut dilakukan sepanjang tahun. Menurutnya, pendapatan tahunan dapat menembus lebih dari Rp2,4 miliar.

        Khozinudin menilai angka Rp700 ribu per kilogram tersebut perlu diklarifikasi agar tidak menimbulkan persepsi keliru mengenai tingkat pendapatan pekerja di sektor informal.

        Ia menganggap pernyataan tersebut mencerminkan adanya kesenjangan pemahaman mengenai kondisi ekonomi masyarakat kecil.

        "Setelah ramai karena sebut penggilingan berpenghasilan Rp2 triliun per bulan, kini ramai lagi karena kupas bawang Rp700 ribu per kilo," tulis Khozinudin.

        Menurut dia, masyarakat berpenghasilan rendah menghadapi berbagai persoalan, mulai dari memenuhi kebutuhan pokok hingga membayar biaya pendidikan, listrik, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

        Khozinudin kemudian mengkritik latar belakang kehidupan Prabowo yang dinilainya membuat Presiden tidak merasakan langsung berbagai kesulitan ekonomi yang dialami masyarakat miskin.

        "Prabowo tak pernah tahu, rasanya lapar. Rasanya 'nempur beras' atau hutang sembako ke warung," tulisnya.

        Ia juga menyebut pengalaman masyarakat yang harus berhemat untuk memenuhi kebutuhan pangan, membayar listrik, maupun membiayai pendidikan anak.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ferry Hidayat
        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: