Kredit Foto: Ist
Juru Bicara Partai Gerindra Sugiat Santoso merespons keras pernyataan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI). Hal itu terkait dengan tuduhan bahwa pemerintah telah menjadipenjajahan negara atas rakyat sendiri.
Sugiat mempertanyakan dasar fakta dan data yang digunakan mahasiswa hingga sampai pada kesimpulan tersebut. Ia meminta agar kritik yang menyangkut tuduhan serius terhadap negara maupun pemerintah disertai argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Baca Juga: NTT dan Kalimantan Jadi Sorotan Anies Baswedan: Jangan Biarkan Warga Menghadapi Bencananya Sendirian
“Isu yang pertama itu hentikan penjajahan negara atas rakyat sendiri. Iya, apa fakta, apa data yang sampai mereka membuat kesimpulan seperti itu,” kata Sugiat, dikutip Jumat (21/8/2026).
Bagi Sugiat, istilah tersebut bukan sekadar kritik biasa. Narasi mengenai negara menjajah rakyat sendiri dapat dimaknai sebagai tuduhan serius terhadap pemerintah dan negara.
“Kalau itu kan poin satu seperti menuduh negara, menuduh pemerintah, itu negara penjajah,” tuturnya.
Karena itu, ia menyatakan tidak sepakat dengan kesimpulan tersebut. Presiden Prabowo Subianto menurutnya tidak melihat dirinya dalam posisi sebagai negara yang menjajah rakyatnya sendiri.
“Ya tidak. Ya pasti kami tidak merasa seperti itu,” tegas Sugiat.
Sugiat bahkan mengklaim bahwa mayoritas masyarakat juga tidak merasakan kondisi sebagaimana yang digambarkan dalam tuntutan tersebut.
“Dan mayoritas rakyat juga tidak merasa seperti itu. Saya nggak tahu dari mana mereka bisa mengambil kesimpulan seperti itu,” ujarnya.
Sebelumnya, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia dan Front Mahasiswa Nasional (FMN) menggelar demonstrasi dan menyampaikan delapan tuntutan, pada Selasa (18/08).
Hingga akhir demo, para mahasiswa tak berhasil mencapai tujuan lokasi aksi mereka di Bundaran Hotel Indonesia. Hal itu karena barisan aparat mengadang mereka sekitar satu kilometer dari Bundaran Hotel Indonesia.
Beberapa kali terdengar perintah polisi agar mahasiswa tidak memaksa maju. Namun, para mahasiswa terus berjalan dan bergerak maju, sembari berorasi dan menyanyikan yel-yel "pembunuh, pembunuh, pembunuh", disusul "buka, buka jalannya sekarang juga".
Baca Juga: Dedi Mulyadi Soal Kunjungan ke NTT: Prinsip Orang Kesusahan, Ditengok Saja Sudah Menjadi Kebahagiaan
Dalam aksinya, mereka mengajukan delapan tuntutan yang terpampang dalam poster bergambar sindiran maupun kritikan terhadap kebijakan Presiden Prabowo Subianto.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar