Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        13 Proyek Hilirisasi Baru Rampung Dikaji, Kabel Bawah Laut Jadi Salah Satu yang Dibidik

        13 Proyek Hilirisasi Baru Rampung Dikaji, Kabel Bawah Laut Jadi Salah Satu yang Dibidik Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional telah merampungkan studi kelayakan (feasibility study) untuk 13 proyek hilirisasi baru. Proyek-proyek tersebut kini menunggu arahan lebih lanjut sebelum masuk ke tahap berikutnya.

        Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Sekretaris Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional, Ahmad Erani Yustika, mengatakan hasil studi kelayakan tersebut akan diserahkan kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang juga menjabat sebagai Ketua Satgas Hilirisasi.

        ’Nanti (13 proyek itu) akan beliau (Ketua Satgas) cek, terus (kami akan) mendengarkan arahan-arahan selanjutnya apakah akan langsung diserahkan kepada Danantara atau masih harus dilaporkan juga kepada Bapak Presiden nanti nunggu ke Pak Bahlil sebagai Ketua Satgasnya,’’ katanya di KESDM, Jakarta, Jumat (21/8/2026).

        Erani menjelaskan, dalam menyusun daftar proyek hilirisasi, Satgas berpedoman pada dua prinsip utama yang menjadi arahan Presiden RI Prabowo Subianto.

        “Yang pertama kita harus menaikkan nilai tambah sumber daya alam kita sehingga harus diolah di sini. Itu yang paling utama. Yang kedua kita justru harus mendorong supaya ketergantungan impornya itu berkurang,” tambahnya.

        Salah satu proyek yang tengah dikaji dalam program hilirisasi tersebut adalah produksi kabel bawah laut. Erani menyebut, produk tersebut masih memiliki kapasitas produksi yang terbatas di dalam negeri sehingga selama ini Indonesia masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.

        Ketika ditanya mengenai kemungkinan kabel bawah laut tersebut digunakan untuk mendukung ekspor listrik ke Singapura, Erani belum membenarkan hal tersebut. ''Enggaklah,'' seloroh Dia.

        Baca Juga: ESDM Ultimatum Proyek Panas Bumi Mangkrak, Izin Bisa Dicabut Jika Tak Bergerak

        Baca Juga: Kementerian ESDM Buka Suara Terkait Jalannya Relaksasi Nikel 2026

        Menurut dia, kebutuhan utama saat ini adalah memastikan kebutuhan dalam negeri dapat terpenuhi terlebih dahulu. Hal tersebut sejalan dengan mandat Presiden Prabowo agar hilirisasi mampu memperkuat industri nasional dan mengurangi ketergantungan impor.

        ‘’Kalau dulu misalnya katakanlah kabel bawah laut itu kita harus impor maka kita produksi sendiri gitu ininya. Itu dulu baru dicukupi dulu. Kalau nanti ada sisanya baru kita berpikir yang lain lah, misalnya ekspor gitu,’’ tutupnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: