Kredit Foto: Reuters/Murad Sezer
Antrean panjang kendaraan terlihat di sejumlah SPBU di Teheran, Iran, pada Selasa (25/8/2026). Kondisi tersebut terjadi setelah Amerika Serikat mengumumkan rangkaian sanksi baru untuk meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Iran.
Kebijakan Washington menjadi bentuk tekanan ekonomi setelah konflik militer AS dan Iran selama sekitar enam bulan belum menghasilkan penyelesaian. Perundingan damai juga terhenti ketika lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz mengalami gangguan.
Antrean terlihat di beberapa SPBU di ibu kota Iran. Mobil dan sepeda motor harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan bahan bakar.
Warga Teheran mengaku khawatir dampak sanksi akan semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari. "Tentu saja, sanksi mempengaruhi kehidupan masyarakat. Orang-orang menderita, baik mereka yang berkecukupan secara finansial maupun mereka yang lemah secara finansial," kata agen properti Mehdi Yazdian (55), dikutip AFP, Rabu (26/8).
Yazdian meminta pemerintah Iran mengambil langkah untuk mengendalikan harga. Ia juga menilai masyarakat Iran sudah terbiasa menghadapi tekanan ekonomi akibat sanksi selama puluhan tahun.
"Iya, sanksi-sanksi ini memang berdampak, namun tentu saja, rakyat kami tangguh. Sanksi-sanksi ini sudah diberlakukan selama 47 tahun," ujarnya.
Iran sebelumnya telah menghadapi inflasi tinggi sebelum perang kembali pecah. Kondisi tersebut turut memicu gelombang demonstrasi antipemerintah yang meluas dan mencapai puncaknya pada Januari lalu.
Warga lainnya, Kia Farahani (45), menilai tekanan ekonomi berpotensi kembali memicu aksi protes. "Saya secara pribadi sama sekali tidak takut perang, karena ini adalah tanah air kami. Namun menurut saya, perang ini akan lebih bersifat ekonomi dan akan menimbulkan tekanan besar bagi masyarakat, sehingga mungkin akan kembali muncul aksi protes," kata guru Bahasa Inggris tersebut.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan negara yang tidak mendukung kebijakan ekonomi Washington akan menghadapi dampak isolasi. Presiden Donald Trump juga disebut telah menghubungi sejumlah pemimpin dunia untuk meminta mereka menghentikan interaksi dengan Iran.
Baca Juga: Rudal AS Menipis Usai Perang Iran, Pentagon Disebut Butuh 3 Tahun Pulihkan Stok
Departemen Keuangan AS menyatakan sanksi sekunder terbaru menyasar sektor aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran Iran. Sanksi juga dikenakan terhadap 60 individu, perusahaan, dan kapal yang dituduh membantu Iran memperoleh pendapatan dari minyak, pengadaan senjata, serta operasi siber.
Sanksi tersebut turut menyasar sejumlah entitas yang berada di Uni Emirat Arab, Hong Kong, China, Singapura, dan Eropa. Kebijakan baru Washington kini menambah tekanan terhadap ekonomi Iran ketika masyarakat mulai merasakan dampaknya secara langsung.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: