Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Biaya Produksi Beras RI 3 Kali Lipat Thailand-Vietnam, Zulhas: Kita Kalah

        Biaya Produksi Beras RI 3 Kali Lipat Thailand-Vietnam, Zulhas: Kita Kalah Kredit Foto: Muhammad Farhan Shatry
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Masalah pangan Indonesia ternyata bukan sekadar soal harga yang mahal di pasar. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan alias Zulhas mengungkap adanya kesenjangan besar dalam biaya produksi pangan jika dibandingkan dengan sejumlah negara lain. Kondisi ini membuat Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mengejar daya saing pangan.

        Salah satu perbandingan yang disorot Zulhas adalah produksi beras. Ia menyebut Thailand dan Vietnam mampu menghasilkan beras dengan biaya jauh lebih rendah dibandingkan Indonesia. 

        "Negara tetangga kita dekat, Thailand, Vietnam itu, untuk dapat 1 kilo beras, dia hanya mengeluarkan biaya Rp3.800 (per kilogram). Kita untuk 1 kg beras, itu perlu biaya Rp12 ribu. Betapa kita kalah jauh tertinggal," kata Zulhas di JCC Senayan, Jakarta Pusat, belum lama ini.

        Baca Juga: Masalah Bertubi-tubi, Ustaz Kondang Sentil Pemerintah: Presiden Jalan-jalan, Wapresnya Sedang Apa?

        Menurut Zulhas, kesenjangan tersebut tidak muncul begitu saja. Teknologi pertanian, penggunaan varietas baru, serta manajemen pengolahan sawah menjadi sejumlah faktor yang membuat produktivitas negara lain bisa lebih tinggi dengan biaya yang lebih rendah.

        Perbandingan serupa ia temukan pada komoditas tebu. Zulhas menyebut biaya untuk menghasilkan 1 kilogram tebu di Lumajang mencapai sekitar Rp14 ribu. Sementara di India dan Brasil, biaya produksinya disebut tidak sampai Rp4 ribu per kilogram.

        Besarnya selisih biaya tersebut membuat daya saing pangan Indonesia masih menghadapi persoalan. Apalagi, persoalan produksi juga berkaitan dengan ketergantungan terhadap bibit dari luar negeri.

        Zulhas mengatakan hampir seluruh tanaman pangan di Indonesia masih menggunakan bibit impor. Ketergantungan tersebut, menurutnya, berpotensi terus berlangsung apabila tidak ada pengembangan bibit dalam negeri yang mampu meningkatkan produktivitas.

        Ia kemudian mencontohkan komoditas kedelai. Dengan bibit yang digunakan di Indonesia saat ini, produktivitas kedelai disebut hanya sekitar 1 ton per hektare. Sebaliknya, negara yang telah mengembangkan rekayasa genetik mampu menghasilkan hingga 10 ton per hektare.

        Kesenjangan produktivitas itu pada akhirnya ikut memengaruhi harga. Zulhas mengatakan kedelai Indonesia bisa memiliki harga tiga hingga empat kali lebih mahal akibat rendahnya produktivitas tersebut.

        Bagi Zulhas, persoalan pangan yang mahal tidak berhenti pada urusan harga di pasar. Ketika harga pangan tinggi, kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi juga dapat ikut terdampak, khususnya bagi masyarakat yang memiliki pendapatan lebih rendah.

        Hal tersebut ia kaitkan dengan pengalamannya melihat kondisi anak-anak di Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT), serta sebuah desa di Sorong. Zulhas mengatakan masih menemukan anak-anak yang mengalami persoalan gizi dan pertumbuhan.

        Kondisi tersebut menjadi semakin berat ketika daya beli masyarakat juga rendah. Zulhas membandingkan pendapatan per kapita Thailand yang disebut telah berada di kisaran US$8.000 dengan Indonesia yang masih di bawah US$5.000.

        "Papua lebih susah hidupnya, NTT lebih susah, daya belinya lebih rendah, dia harus membayar lebih mahal. Income per kapita Thailand tuh kalau saya nggak salah, sudah US$8.000, sudah. Kita kan masih di bawah US$5.000," ujar dia.

        Menanggapi hal itu, pemerintah, kata Zulhas, tidak berencana membenahi seluruh komoditas pangan dalam waktu bersamaan. Ia mengatakan program swasembada akan dilakukan secara bertahap dengan sejumlah komoditas sebagai prioritas.

        "Tidak semua kita lakukan sekaligus. Kita bertahap, sekarang beras, jagung, ya, kemudian ini kita akan berkembang ke gula, sama garam, terus ikan, daging belakangan, nggak mudah juga daging itu," ungkapnya.

        Bagi pemerintah, pembenahan tersebut bukan pekerjaan singkat. Selain menekan biaya produksi, peningkatan produktivitas dan pengembangan bibit menjadi bagian penting agar pangan Indonesia tidak terus tertinggal dari negara lain dan masyarakat tidak harus membayar lebih mahal untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: