Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Berpotensi Naik ke 6.876, Simak Level Kuncinya

        IHSG Berpotensi Naik ke 6.876, Simak Level Kuncinya Kredit Foto: Uswah Hasanah
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan menuju level 6.876 jika mampu menembus resistance di 6.705. Level tersebut menjadi kunci bagi pergerakan IHSG setelah indeks menguat 1,82% sepanjang pekan lalu, 31 Agustus hingga 4 September 2026.

        Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, Imam Gunadi, menilai pergerakan IHSG pekan ini akan sangat ditentukan oleh kemampuan indeks mempertahankan area breakout yang telah terbentuk. Pasalnya, pasar akan menghadapi sejumlah rilis data ekonomi global dan domestik yang berpotensi memengaruhi sentimen investor.

        Dari sisi teknikal, Imam melihat dua skenario untuk IHSG. Dalam skenario bullish, IHSG perlu mempertahankan momentum dan menembus resistance 6.705.

        Jika berhasil dilewati, level 6.705 berpotensi berubah menjadi support baru dan membuka ruang bagi IHSG untuk melanjutkan recovery menuju target berikutnya di 6.876. Level tersebut juga berpotensi menjadi area profit taking.

        Sebaliknya, jika IHSG mengalami rejection di sekitar 6.705 dan kembali turun hingga menembus support 6.605, kondisi tersebut akan menjadi sinyal awal buyer mulai kehilangan kendali atas momentum jangka pendek.

        Meski demikian, penurunan di bawah 6.605 belum serta-merta membatalkan struktur bullish yang terbentuk. Imam menyebut support yang lebih menentukan berada di 6.465, yang merupakan MA20 sekaligus dynamic support.

        "Support yang lebih menentukan berada di 6.465 (MA20/dynamic support), selama level ini bertahan, koreksi yang terjadi masih dapat dipandang sebagai healthy correction pascarally panjang," kata Imam dalam risetnya, Senin (7/9/2026).

        Selain faktor teknikal, IHSG pekan ini akan menghadapi sejumlah agenda ekonomi penting. Senin, pasar mencermati data cadangan devisa Indonesia yang dapat memberikan gambaran mengenai likuiditas eksternal dan daya tahan rupiah.

        Selasa, perhatian beralih ke data pertumbuhan ekonomi Jepang dan neraca perdagangan China untuk Agustus. Konsensus memperkirakan surplus perdagangan China melebar menjadi US$120,1 miliar dari US$112,5 miliar pada Juli.

        Baca Juga: JP Morgan Pangkas Target IHSG Jadi 7.000, Ini Tantangannya

        Baca Juga: IHSG Naik 1,82% ke 6.636 dalam Sepekan, BEI Catat Lonjakan Aktivitas Transaksi

        “Perbaikan ini, jika terkonfirmasi, dapat menjadi sinyal positif bagi permintaan global dan sentimen pasar Asia termasuk Indonesia karena China merupakan partner dagang terbesar bagi Indonesia,” ujar Imam.

        Pada Rabu, China akan merilis data inflasi dan Producer Price Index (PPI). Sementara Kamis, pasar akan mencermati data penjualan ritel Indonesia untuk Juli yang akan menjadi indikator arah konsumsi domestik, serta keputusan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) yang menurut konsensus diperkirakan naik menjadi 2,65% dari 2,4%.

        Menutup pekan, data inflasi Amerika Serikat akan menjadi perhatian pada Jumat. Konsensus memperkirakan inflasi AS tetap berada di level 3,4% secara tahunan (YoY) pada Agustus.

        Dengan demikian, kemampuan IHSG menembus 6.705 akan menjadi penentu penting apakah indeks dapat melanjutkan tren recovery menuju 6.876 atau kembali menghadapi tekanan koreksi.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dian Ihsan
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: