Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kapan Hujan Abu Anak Krakatau Berhenti? Pakar: Tak Bisa Ditentukan...

        Kapan Hujan Abu Anak Krakatau Berhenti? Pakar: Tak Bisa Ditentukan... Kredit Foto: Antara/Muhammad Bagus Khoirunas
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Hujan abu vulkanik mengguyur sejumlah wilayah di Provinsi Lampung setelah Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pada Sabtu (5/9). Lantas, kapan hujan abu vulkanik akibat aktivitas Anak Krakatau akan berhenti?

        Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono mengatakan aktivitas erupsi gunung api tidak bisa dipastikan berhenti berdasarkan hitungan hari atau tanggal tertentu. Menurutnya, letusan baru akan mereda ketika pasokan magma segar dari dalam bumi berkurang atau berhenti dan tekanan di dapur magma kembali tenang.

        Selama kantong magma di bawah gunung masih mendapat pasokan magma baru dari kedalaman bumi, letusan susulan yang membawa abu masih dapat terjadi secara naik-turun. "Selama kantong magma di bawah gunung masih terus mendapat kiriman magma baru dari kedalaman bumi, letusan susulan yang membawa abu akan terus terjadi secara naik-turun, kadang tenang, kadang membesar," kata Daryono dalam pernyataan tertulis, Senin (7/9).

        Daryono menjelaskan arah dan sebaran abu vulkanik sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni kekuatan erupsi dan arah angin. Jika letusan berlangsung kuat, abu berukuran halus dapat terlontar tinggi ke atmosfer dan kemudian terbawa angin hingga puluhan bahkan ratusan kilometer.

        Pasokan magma sendiri dapat berhenti ketika dorongan alami dari dalam bumi kehilangan tenaga. Tanpa dorongan yang cukup kuat, magma di saluran gunung api akan mendingin, mengeras, kemudian tersumbat oleh batuan di sekitarnya sehingga aktivitas erupsi dapat kembali stabil.

        "Tanda-tanda pasokan magma mulai habis dapat terlihat dari alat pemantau, seperti hilangnya gempa dalam dari bawah gunung, menurunnya drastis bau gas menyengat, serta tubuh gunung yang mulai menyusut," ujar Daryono. Namun, tanda-tanda tersebut tetap harus dibaca melalui pemantauan gunung api secara berkelanjutan.

        Daryono menegaskan para ahli belum memiliki teknologi yang dapat mengukur secara persis berapa banyak sisa magma yang berada jauh di dalam bumi. Karena itu, waktu berhentinya aktivitas erupsi tidak bisa dipastikan hanya dengan menentukan tanggal tertentu.

        "Belum ada teknologi di dunia yang bisa mengukur sisa jumlah magma di dalam Bumi secara persis. Ini mirip kejadian gempa yang belum dapat diprediksi hingga saat ini karena mekanisme terjadinya di kedalaman jauh di bawah permukaan bumi," imbuhnya.

        Dalam memantau kemungkinan berakhirnya aktivitas gunung api, para ahli vulkanologi membaca pola perubahan aktivitas melalui berbagai instrumen. Penurunan gempa serta perubahan bentuk tubuh gunung, termasuk deflasi dan deformasi permukaan, menjadi sejumlah indikator yang terus diamati.

        "Yang bisa dilakukan oleh para ahli vulkanologi bukanlah menebak tanggal, melainkan membaca pola. Appreciate untuk PVMBG Badan Geologi yang tiada lelah terus bekerja untuk ini," tutup Daryono.

        Baca Juga: Jakarta Diintai Abu Vulkanik, Polda Metro Siapkan Tim SAR di Jakarta

        Sementara itu, hujan abu vulkanik Anak Krakatau mulai mengguyur sejumlah wilayah Lampung pada Sabtu (5/9) sekitar pukul 17.00 WIB hingga malam hari. Abu dilaporkan menyebar ke Lampung Selatan, Bandar Lampung, Lampung Timur, Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, Pesisir Barat, Mesuji, hingga Lampung Barat.

        Sebaran abu tersebut membuat sejumlah warga mengeluhkan mata perih, tenggorokan tidak nyaman, hingga gangguan pernapasan. Perubahan arah angin menjadi salah satu faktor yang dapat membawa abu vulkanik menjangkau wilayah yang lebih jauh dari gunung.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Christian Andy
        Editor: Christian Andy

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: