Tak Ingin Perang Selesai, Iran Bakal Paksa AS Tetap Saling Serang
Kredit Foto: Istimewa
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Teheran secara terbuka mengancam akan melancarkan serangan pre-emptive atau serangan pencegahan terhadap potensi ancaman militer.
Ancaman tersebut muncul di tengah perselisihan antara Iran dan AS terkait kontrol jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyampaikan sikap tersebut melalui siaran televisi negara pada Selasa (8/9/2026). Ia menegaskan Iran tidak akan menunggu serangan datang dan siap mengambil tindakan sebelum ancaman terhadap negaranya benar-benar dilaksanakan.
Dalam keterangannya, Rezaei juga menunjukkan perluasan alat utama sistem persenjataan (alutsista) militer Iran. Ia menyebut Iran telah menguji varian rudal baru yang ditujukan langsung kepada armada kapal perang AS.
Langkah tersebut menambah kekhawatiran terhadap kemungkinan meluasnya konflik Iran-AS, terutama setelah ketegangan di kawasan perairan strategis Selat Hormuz meningkat.
Belum dipastikan apakah pengujian rudal yang dimaksud menggunakan rudal balistik berbahan bakar padat Qassem Basir. Namun, laporan media lokal menyebut rudal dengan jangkauan 1.200 kilometer tersebut menjadi bagian penting dalam perubahan strategi pertahanan Iran.
Rudal itu disebut memiliki hulu ledak seberat setengah ton serta tingkat akurasi tinggi. Persenjataan tersebut juga disebut menjadi salah satu alasan utama AS dan Israel menggempur Iran hingga memicu perang sejak 28 Februari lalu.
Eskalasi semakin meningkat setelah Washington mengonfirmasi bahwa rudal balistik Iran sempat membidik kapal-kapal militer AS pada Sabtu (5/9/2026).
Pasukan AS kemudian membalas dengan menghantam tiga kapal tanker minyak milik Teheran. Manuver tersebut dinilai analis keamanan sebagai eskalasi yang sangat berbahaya karena serangan laut Iran dalam enam bulan terakhir sebelumnya lebih banyak menyasar armada pelayaran komersial.
Gedung Putih juga menolak klaim Iran mengenai rencana penerapan zona eksklusif di Selat Hormuz. AS menegaskan perairan internasional tersebut berada di bawah kendalinya untuk menjamin lalu lintas kapal tanker.
Hingga Senin (7/9/2026), militer AS mencatat sebanyak 94 kapal komersial telah mengalihkan rute. Tiga kapal lainnya juga dilaporkan lumpuh akibat konflik, sementara operasi penjelajahan ranjau masih dilakukan Angkatan Laut AS.
Baca Juga: Tak Patuhi Trump Soal Sanksi Ekonomi Iran, China Bisa Buat AS Murka
Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap jalur pasokan minyak dan gas alam dunia serta memicu kemarahan negara-negara Teluk.
Penasihat Diplomatik Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Anwar Gargash, mengecam upaya sepihak Iran yang dinilai mengganggu aktivitas perdagangan regional.
Gargash menegaskan bahwa ekspor energi, perdagangan, dan aktivitas ekonomi negara-negara di kawasan tidak boleh dijadikan sandera. Ia juga menolak adanya satu negara yang menguasai Selat Hormuz.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: