James Riady: Indonesia Bukan Kekurangan Destinasi Wisata, tetapi Perlu Konversi Potensi Jadi Ekonomi
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Indonesia tidak kekurangan aset pariwisata. Persoalan utamanya justru bagaimana mengubah kekayaan alam dan budaya yang dimiliki menjadi aktivitas ekonomi yang menghasilkan kunjungan wisatawan, belanja, investasi, lapangan kerja, dan pertumbuhan daerah.
Wakil Ketua Umum Koordinator Kadin Indonesia James Riady mengatakan Indonesia memiliki modal pariwisata yang sangat besar, mulai dari pantai, laut, pulau, destinasi diving dan surfing, gunung, hutan, hingga kekayaan budaya dan kuliner.
“Tidak ada masalah dengan ketersediaan aset pariwisata. Tantangan kita adalah konversi,” kata James dalam KADIN Monthly Diplomatic Economic Breakfast di Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Menurut James, Indonesia perlu mengubah keindahan alam dan kekayaan budaya menjadi aksesibilitas, kemudian menciptakan pengalaman wisata yang menarik sehingga mendorong pengeluaran wisatawan. Selanjutnya, aktivitas ekonomi tersebut harus mampu menarik investasi dan memberikan kemakmuran bagi masyarakat.
Ia menilai Indonesia memiliki aset pariwisata yang sulit ditandingi banyak negara. Namun, sejumlah negara lain lebih berhasil membangun ekosistem di sekitar destinasi, mulai dari penerbangan, hotel, transportasi, restoran, ritel, penyelenggaraan acara, kebersihan, konektivitas, kemudahan perjalanan, hingga promosi digital.
Karena itu, menurut James, Indonesia perlu mengubah cara melihat keberhasilan sektor pariwisata. Potensi dan jumlah destinasi tidak cukup menjadi ukuran.
“Yang menjadi tantangan adalah bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi angka kedatangan wisatawan, durasi tinggal, tingkat pengeluaran, investasi, pembukaan lapangan kerja, dan kunjungan berulang,” ujarnya.
Tiga Mesin Pertumbuhan
James menempatkan pariwisata sebagai salah satu dari tiga sektor yang dinilai memiliki peluang besar untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dua sektor lainnya adalah kecerdasan buatan (AI) dan teknologi serta perumahan.
Menurut dia, perekonomian global masih menghadapi tekanan pertumbuhan, sementara biaya modal tetap tinggi dan ruang fiskal pemerintah terbatas. Kondisi tersebut membuat Indonesia perlu mencari sektor yang dapat bergerak lebih cepat dan memberikan efek pengganda terhadap perekonomian.
Dalam konteks tersebut, pariwisata memiliki keunggulan karena sebagian besar aset dasarnya telah tersedia secara alami. Tantangannya adalah membangun infrastruktur dan ekosistem yang mampu menghubungkan aset tersebut dengan wisatawan dan aktivitas ekonomi.
James mencontohkan perkembangan pariwisata urban di Jakarta. Dalam beberapa waktu terakhir, wisatawan dari Asia Tenggara, terutama Malaysia, semakin banyak datang untuk menikmati pengalaman perkotaan di Jakarta.
Mereka tidak hanya berbelanja, tetapi juga berburu kuliner, menikmati gaya hidup perkotaan, mengunjungi Blok M dan pusat perbelanjaan, hingga melanjutkan perjalanan menggunakan kereta cepat Whoosh menuju Bandung.
Menurut James, perkembangan tersebut menarik karena tidak seluruhnya didorong kampanye pariwisata konvensional. Media sosial seperti TikTok dan Instagram ikut membentuk tren dengan memperkenalkan pengalaman wisata secara langsung kepada calon wisatawan.
Fenomena itu menunjukkan bahwa perilaku wisatawan telah berubah. Pengalaman yang menarik dapat menyebar secara cepat melalui media sosial dan mendorong wisatawan lain datang untuk merasakan hal serupa.
“Kadang-kadang peluang pariwisata muncul bahkan sebelum para pembuat kebijakan menyadarinya secara penuh,” katanya.
Destinasi Harus Diikuti Infrastruktur
Di sisi lain, pertumbuhan destinasi juga harus diimbangi kesiapan infrastruktur. James mencontohkan Labuan Bajo yang telah berkembang menjadi destinasi bahari dengan daya tarik internasional.
Pertumbuhan tersebut kemudian memunculkan kebutuhan baru, antara lain kapasitas hotel dan bandara, marina internasional, serta infrastruktur pendukung seperti bahan bakar.
Menurut James, pengalaman Labuan Bajo menunjukkan bahwa keberhasilan destinasi harus diikuti kemampuan menyediakan kapasitas yang memadai. Tanpa dukungan tersebut, pertumbuhan jumlah wisatawan justru berpotensi terhambat.
Karena itu, pengembangan pariwisata tidak cukup hanya dengan membangun destinasi. Pemerintah dan dunia usaha harus membangun ekosistem yang membuat wisatawan mudah datang, nyaman tinggal lebih lama, dan terdorong membelanjakan uangnya.
Jangan Terpusat di Jakarta dan Bali
James juga menekankan pentingnya mengembangkan pariwisata berbasis daerah. Menurut dia, masa depan pariwisata Indonesia tidak hanya berada di Jakarta atau Bali, tetapi juga di berbagai daerah yang memiliki keunggulan alam dan budaya.
Sumatera Barat, misalnya, memiliki kekayaan kuliner, budaya, sejarah, pegunungan, garis pantai, kepulauan, hingga kawasan surfing yang berpotensi dikembangkan untuk pasar internasional.
Sementara Papua Tengah memiliki kekayaan alam dan lanskap yang luar biasa, meski masih menghadapi tantangan dalam membangun infrastruktur, konektivitas, kelembagaan, serta sumber daya manusia.
Kondisi tersebut membuat peran Kadin daerah menjadi penting karena berada lebih dekat dengan peluang, persoalan di lapangan, dan pelaku usaha lokal.
James menilai pengembangan pariwisata di daerah juga dapat menciptakan dampak ekonomi yang lebih cepat dirasakan masyarakat.
Menurutnya, satu hotel dapat menciptakan lapangan kerja. Demikian pula restoran dan pembukaan rute penerbangan baru. Pengeluaran wisatawan bahkan dapat menggerakkan rantai ekonomi yang panjang.
Belanja secangkir kopi, misalnya, tidak hanya memberikan pendapatan kepada kafe, tetapi juga menggerakkan distributor, roaster, hingga petani. Sementara kegiatan wisata selam menciptakan pekerjaan bagi pemandu, kru kapal, dan masyarakat lokal.
“Pariwisata bukan sekadar tentang angka kedatangan wisatawan. Pariwisata adalah tentang lapangan kerja, pertumbuhan daerah, penerimaan devisa, kewirausahaan, dan optimisme bangsa,” ujar James.
Karena itu, Kadin mendorong sektor pariwisata mendapatkan porsi lebih besar dalam strategi pertumbuhan ekonomi nasional. Fokusnya bukan lagi sekadar mempromosikan potensi, melainkan memastikan potensi tersebut dikonversi menjadi aktivitas ekonomi riil.
Langkah konkretnya dapat berupa pembukaan rute penerbangan baru, peningkatan konektivitas bandara, pembangunan marina, penyesuaian kebijakan visa, penataan kawasan wisata dan pusat perbelanjaan, penguatan promosi digital, hingga pengembangan produk wisata baru.
“Yang terpenting adalah kita harus lebih terarah dalam mengonversi keunggulan alam dan budaya Indonesia yang melimpah menjadi aktivitas ekonomi riil,” tegas James.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Sufri Yuliardi
Editor: Sufri Yuliardi
Tag Terkait: