Kredit Foto: Istimewa
Di tengah dinamika dunia profesional yang semakin cepat, kemampuan beradaptasi dan keberanian untuk berinovasi menjadi modal penting dalam membangun karier hingga memimpin perusahaan.
CEO BDO di Indonesia, Thano Tanubrata, mengatakan bahwa seorang profesional dituntut untuk tak hanya mampu merespons perubahan, tetapi juga berani mengambil langkah sebagai pionir, membuka diri terhadap berbagai perspektif, hingga menjadikan kegagalan sebagai bagian dari proses menuju keberhasilan.
Ia menjelaskan, prinsip-prinsip tersebut menjadi fondasi penting dalam perjalanan karier sekaligus memimpin BDO di Indonesia.
“Dalam dunia profesioal, jangan pernah menjadi followers. Sebisa mungkin kita harus menjadi pionir. Terutama di era saat ini di mana segala sesuatu berjalan dengan sangat cepat sehingga kita harus selalu agile dalam menghadapi perubahan,” katanya dalam wawancara tertulis yang diterima di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Thano memandang bahwa inovasi tidak harus menunggu hingga seluruh aspek dipersiapkan secara sempurna. Keberanian untuk mengeksekusi ide dan melakukan eksperimen justru menjadi langkah awal dalam menciptakan terobosan.
Dalam proses tersebut, imbuhnya, kegagalan perlu dipandang sebagai kesempatan untuk mengevaluasi pendekatan dan melakukan perbaikan.
Pandangan tersebut turut dipengaruhi oleh sosok Elon Musk yang dikenal berani dalam menghadirkan inovasi-inovasi baru. Di balik berbagai terobosan yang dilakukan oleh Elon Musk, pasti terdapat proses panjang berupa eksperimen, evaluasi, dan pembelajaran.
“Kita tidak perlu menunggu segala sesuatu harus sempurna 100% untuk eksekusi. Sebaliknya, kita harus segera mencoba terlebih dahulu. Jangan pernah takut gagal. Failure is an opportunity to learn,” ujarnya.
Perlu diketahui, sebelum dipercaya memimpin BDO di Indonesia, ia terlebih dahulu meniti karier profesional di Australia. Perjalanan tersebut dimulai di BDO Melbourne sebelum kemudian bergabung dengan Deloitte Australia pada periode tahun 2003 hingga 2011.
Pengalaman berkarier di lingkungan profesional Australia menjadi bekal penting dalam mengembangkan perspektif dan kompetensi. Setelah bertahun-tahun berkiprah di luar negeri, ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia dengan membawa minat mendalam terhadap teknologi dan potensi dalam mendukung transformasi bisnis.
Di awal kariernya bersama BDO di Indonesia, ia mengembangkan layanan advisory berbasis teknologi. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari proses panjang hingga akhirnya dipercaya untuk menduduki posisi CEO BDO di Indonesia.
“Saya sejak lama memiliki minat pada bidang teknologi. Dari situ saya memiliki passion untuk bisa menerapkan teknologi yang bisa membantu perusahaan, baik untuk mendukung operasional maupun untuk tujuan bisnis. Saya senang ketika membantu klien untuk menerapkan teknologi yang bisa membuat perusahaan mereka berkembang,” paparnya.
Kemampuan Mendengarkan
Di tengah lingkungan kerja yang semakin beragam, kemampuan mengambil keputusan bukan satu-satunya kompetensi yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin. Kemampuan untuk memahami perspektif orang lain juga menjadi faktor penting dalam membangun kepemimpinan yang efektif.
Thano melihat dunia profesional saat ini sebagai lingkungan yang mempertemukan berbagai generasi dengan karakter, pengalaman, dan pola pikir berbeda. Keberagaman tersebut, menurutnya, perlu dikelola melalui komunikasi yang terbuka dan kemampuan mendengarkan secara aktif.
“Kunci menjadi pemimpin adalah mendengar bukan memerintah. Kita harus bisa mendengar apa yang menjadi pendapat dari orang lain. Dari informasi-informasi yang kita dengar tersebut, barulah kita melakukan validasi dan merumuskan apa langkah terbaik yang harus dilakukan,” ujarnya.
Thano menegaskan, seorang pemimpin perlu membuka ruang bagi berbagai pendapat dan masukan. Informasi yang diterima kemudian perlu divalidasi dan dianalisis sebelum menjadi dasar dalam merumuskan keputusan. Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari gaya kepemimpinannya.
Ia berupaya untuk mendengarkan masukan dari berbagai pihak dan lapisan organisasi sebelum menyusun strategi serta menentukan langkah yang perlu dilakukan. Baginya, perspektif yang beragam dapat menjadi sumber informasi penting dalam memahami persoalan secara lebih menyeluruh.
“Saya mencoba menjadi pemimpin yang banyak mendengar masukan dari berbagai pihak, dari berbagai lapisan di perusahaan. Setelah mendapatkan berbagai insight dari orang lain dan melakukan validasi serta analisis, barulah saya menyusun strategi dan tindakan yang harus dilakukan,” paparnya.
Baginya, prinsip mendengarkan juga perlu diterapkan ketika menghadapi tantangan dan persoalan serius di perusahaan. Ia memilih untuk mengumpulkan informasi serta masukan dari berbagai pihak guna melengkapi perspektif yang dimilikinya.
“Saya banyak mendengan masukan dari berbagai pihak untuk untuk melengkapi informasi dan insight pribadi yang saya miliki, setelah itu barulah saya menyusun strategi dan tindakan untuk menyelesaikan tantangan dan persoalan serius di perusahaan,” sebutnya.
Disampaikan, pendekatan serupa juga diterapkan dalam membangun komunikasi dengan karyawan maupun jajaran manajemen. Baginya, komunikasi tidak seharusnya dibatasi oleh posisi atau jabatan seseorang dalam organisasi.
Ia memandang, setiap individu memiliki kesempatan untuk menyampaikan informasi dan pandangan. Namun, keterbukaan tersebut tetap disertai proses validasi agar informasi yang diterima dapat menjadi dasar pengambilan keputusan yang tepat.
Dengan demikian, mendengarkan bukan berarti menyerahkan keputusan kepada orang lain. Sebaliknya, mendengarkan menjadi bagian dari proses seorang pemimpin memahami situasi sebelum menentukan arah organisasi.
“Saya terbuka untuk menerima informasi dari siapa saja. Tentu saja saya akan melakukan validasi atas informasi yang saya terima,” ujarnya.
Menjaga Work Life Balance
Di luar kesibukannya sebagai pemimpin perusahaan, Thano menyadari betapa pentingnya menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance). Ia selalu berupaya meluangkan waktu yang berkualitas untuk keluarganya maupun untuk menjalankan hobinya.
“Segala pencapaian dalam hidup saya saat ini terwujud karena adanya dukungan penuh dari keluarga. Untuk itulah saya harus bisa selalu membagi waktu untuk istri dan anak-anak saya,” ungkapnya.
Selain menghabiskan waktu bersama keluarga, saat ini Thano juga aktif mendalami golf. Baginya, golf memuat filosofi yang lebih dalam dari sekadar aktivitas fisik, yakni sebagai medium untuk melatih dan menjaga ketajaman fokus di tengah dinamika. Ia kemudian mengadaptasi nilai-nilai dari olahraga ini ke dalam karakternya saat merespons berbagai tantangan bisnis.
“Saat bermain golf, kita harus fokus pada pukulan selanjutnya, terlepas dari apa pun hasil yang kita dapatkan di hole atau pada pukulan sebelumnya. Dari golf saya belajar untuk focus on your goal, don't get distracted by your past,” pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Redaksi
Tag Terkait: