Kredit Foto: Theguardian.com
Saham Hanjin Shipping melonjak 25 persen setelah perusahaan yang telah melaporkan kebangkrutan tersebut mengumumkan bahwa tengah memulai proses untuk menjual aset-aset Hanjin di Amerika Serikat.
Dalam aturan yang berlaku, Hanjin mengatakan akan meneriman letter of intent (LOI) dari pembeli pada akhir bulan. Sebagai informasi, LOI merupakan dokumen resmi bisnis yang menguraikan perjanjian antara dua pihak atau lebih sebelum perjanjian selesai.
Mengutip BBC di Jakarta, Jumat (14/10/2016), perusahaan pelayaran kargo terbesar asal Korea Selatan, Hanjin Shipping, berada dalam pengawasan kurator pengadilan pada bulan Agustus, setelah Korea Develoment Bank (KDB) menarik dukungan kepada Hanjin karena skema pendanaan perusahaan induk Hanjin yang dinilai tidak memadai untuk mengatasi utang perusahaan yang saat ini sudah mencapai 6 triliun won (US$5,4 miliar).
Penjualan dari aset-aset Hanjin tersebut nantinya akan digunakan untuk mengembalikan utang-utang kepada kreditor. Pengadilan Korea mengawasi proses kurator perusahaan dalam menyetujui lelang aset utama, yang mencakup jaringan rute Asia-Amerika.
Menurut kantor berita Reuters, juru bicara Pengadilan Distrik Pusat Seoul mengatakan batas waktu untuk penawaran yang mengikat diperkirakan pada 7 November. Selain beberapa kapal kontainer, penjualan juga akan mencakup anak perusahaan yang menangani operasional kargo rute Asia-Amerika. Kebangkrutan Hanjin merupakan pukulan terbesar bagi industri perkapalan dan mempengaruhi rantai pasokan global.
Konsultan pelayaran Alphaliner mengungkapkan kebangkrutan Hanjin Shipping akan menjadi peristiwa terbesar yang pernah ada dalam sejarah perusahaan pelayaran dengan kapasitas angkut besar setelah runtuhnya United States Lines pada tahun 1986.
Perusahaan telah diberikan perlindungan hukum untuk mencegah kapal-kapal dari serangan di berbagai pelabuhan termasuk Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Jepang.
Sebelum mengalami kebangkrutan, Hanjin merupakan perusahaan pengangkut barang ketujuh terbesar di dunia, namun tidak lagi menghasilkan laba selama empat dari lima tahun terakhir. Krisis ekonomi global dalam beberapa tahun terakhir telah mempengaruhi keuntungan di industri pengiriman kargo.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Cahyo Prayogo
Tag Terkait: