Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Berbisnis dan Berkontribusi untuk Negara

Berbisnis dan Berkontribusi untuk Negara Kredit Foto: Warta Ekonomi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Lama tinggal di luar negeri bukan berarti melupakan tanah kelahiran. Meski sudah tinggal di Amerika Serikat sekitar 15 tahun, keinginan untuk pulang tetap ada. Dari awal tinggal di Amerika, saya sudah memiliki tekad untuk kembali ke Indonesia. Sekitar tahun 2005, saya kembali ke Indonesia. Dalam hati kecil, muncul pertanyaan, apa yang bisa saya kontribusikan untuk Indonesia?

Di luar negeri, banyak sekali ilmu yang ditimba. Banyak amunisi yang diperoleh sewaktu bekerja di luar negeri. Seperti yang pernah dikatakan oleh Pak Teddy (TP Rachmat, yang juga ayah dari Arif Rahmat), operational skill dan strategic skill harus dapat dikuasai. Selain diajarkan sang ayah, keahlian tersebut juga diperoleh saat bekerja di General Electric (GE) di Amerika. 

Dalam implementasi berbisnis, skill tersebut sangat penting. Apalagi, perusahaan harus memiliki value dibandingkan perusahaan lain. Arahnya adalah untuk menjadi perusahaan “The Best Manage Company” agar bisa menciptakan nilai bagi karyawan dan komunitas di sekitarnya. 

Ada empat bisnis unit Triputra yang besar. Pertama, pertambangan. Kedua, agrikultur. Kami memiliki sawit dan karet pada agrikultur. Selain itu, juga akan masuk ke beras sebagai komoditas pangan inti. Tujuannya adalah untuk membantu petani, membuat rantai pasokan menjadi lebih efisien dan profitabilitasnya naik. Intinya, semua ini bertujuan untuk pangan, tetapi terlebih dahulu membantu petani. Selain itu, juga menjaga agar inflasi tidak terlalu tinggi. Kalau efisiensi tinggi, semuanya bisa tercapai. Ketiga, perdagangan, dan jasa. Kami menjual motor merek Honda. Dealer utama kami di Jawa Barat bekerja sama dengan AHM. Kami juga memiliki bisnis busana, electrical part motor, dan rental mobil. Keempat, manufaktur. 

Dalam sektor pangan, kami ingin meningkatkan produktivitas. Itu satu hal yang paling penting. Perlu kita ingat bahwa pangan adalah komoditas, jadi harus terbiasa dengan biaya paling rendah. Dalam hal ini, kita mempunyai pengetahuan tersebut. Kemampuan tersebut kita berikan kepada para petani. Kita memang masih pemain baru, tetapi kita mencoba untuk mendalaminya sehingga bisa turut membenahi bisnis ini. Adapun beberapa pembenahan yang penting seperti mempersingkat rantai pasokannya, petaninya kita bina supaya produktivitasnya naik. Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan. 

Pada kelapa sawit, dapat kita lihat, petani plasma dan petani swadaya itu produktivitasnya jauh lebih rendah. Oleh sebab itu, program penanaman kembali (replanting) untuk petani sangat penting dilakukan. Dengan penanaman kembali memakai bibit yang bagus, jumlah pohon per hektarenya juga lebih padat. Selain itu, kita juga harus terus melakukan penyuluhan. Ini adalah program riil yang sudah berjalan. 

Saat ini, kami juga sedang coba di karet. Karet memang lebih susah daripada sawit. Jika sawit membutuhkan waktu selama 3 tahun untuk menghasilkan, karet membutuhkan waktu 5 tahun. Saat sudah menghasilkan, barang itu juga belum tentu balik kepada yang meminjamkan. 

Kami berpikir sama, seperti sawit, dari industri untuk industri. Sebenarnya, langkah ini sudah dijalankan di Thailand dan Vietnam, mungkin diambil dari ekspor, kemudian dimasukkan dana tersebut untuk program penanaman kembali. Bantuan diberikan dalam bentuk pupuk, bibit, dan mekanisme alat untuk penanaman kembali. Seperti itulah peran pengusaha, menjadi pembina yang baik. 

Menurut saya, yang bisa dilakukan pengusaha adalah membantu inovasi pembiayaan. Dulu bank tidak mau memberikan pinjaman karena NPL (non performance loan) yang terlalu tinggi. Oleh sebab itu, breakthrough seperti ini yang harus dipikirkan untuk setiap industri.

Teknologi juga penting. Teknologi menjadi terobosan yang selalu kita coba untuk terus meningkatkan efisiensi, seperti dengan penggunaan drone, smartphone, maupun artificial intelligence (AI). Dengan teknologi, kami bisa mengetahui tanaman yang kekurangan nutrisi atau terkena penyakit, dan deteksinya sangat cepat. Dengan drone, kami bisa memetakan beberapa area di pulau Jawa sekaligus untuk membantu pemerintah juga. Waktu itu, kami menggunakan drone untuk lahan petani di Jawa Barat. Ide tersebut bisa dilakukan untuk seluruh Indonesia. Kalau kita bisa dapat foto dari seluruh Indonesia, kita bisa memprediksi pangan.

Kami mendedikasinya banyak waktu untuk membuat negara ini lebih kompetitif. Oleh karena itu, langkah-langkah kemitraan ekonomi dengan akar rumput sangat penting. Kemitraan antara perusahaan dengan akar rumput akan membantu mengangkat dan meningkatkan produktivitas mereka. Kemitraan tersebut tidak hanya di sawit, tapi juga harus meluas ke industri lainnya. 

Kemampuan sumber daya manusia (SDM) juga sangat penting untuk didorong. Kalau mau kuat, Indonesia ujung-ujungnya harus kuat SDM-nya. Pendidikan vokasi salah satunya yang tepat menjawab kebutuhan industri. Saya terasa sekali di sawit, mencari orang itu susah sekali, baik itu pemanen, maupun mandor.

Kita memiliki sekolah training di Kalimantan untuk level staf sejak 78 tahun lalu. Sekolah pelatihan ini untuk staf level asisten dan asisten lapangan. Langkah tersebut sudah menjadi solusi yang menjawab kekurangan tenaga kerja ahli. Meski ada beberapa tenaga ahli yang masih sangat dibutuhkan, seperti asisten teknik, asisten workshop yang punya keahlian mekanik, maupun keahlian infra. Kita harus memberikan kesempatan bagi akar rumput supaya bisa lebih tumbuh. 

 Adapun untuk bisnis logistik, saya pergi ke Cina untuk bertemu salah satu last miles dilivery logistic terbesar di sana, barangkali bisa bermitra dengan Indonesia. Saat ini, e-commerce dan last miles delivery menjadi yang terkuat. Kami sudah punya logistic company dan mau memperkuat last miles delivery. Dengan begitu, kami bisa memiliki servis logistik yang lengkap.

(Disarikan dari wawancara 30 Oktober 2017 di kantor Triputra Agro Persada)

Baca Juga: Bupati Giri Prasta Hadiri Puncak HUT Sekaa Teruna Surya Chandra Banjar Kedewatan ke-32

Penulis: Arif Patrick Rachmat, CEO Triputra Agro Persada

Editor: Ratih Rahayu

Bagikan Artikel: