Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Ada Kabar Baik dari WHO, Semoga Warga Dunia Sedikit Lega

Ada Kabar Baik dari WHO, Semoga Warga Dunia Sedikit Lega Kredit Foto: Reuters/Denis Balibouse
Warta Ekonomi, Jenewa -

Organisasai Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa jumlah kasus virus corona baru naik hanya 20% pada minggu lalu menjadi lebih dari 18 juta. Hal ini menandai perlambatan lonjakan yang disebabkan oleh varian Omicron.

Dalam laporan mingguannya tentang pandemi, dilansir Associated Press, badan kesehatan PBB mengatakan jumlah infeksi COVID-19 baru meningkat di setiap wilayah dunia kecuali Afrika, di mana kasus turun hampir sepertiga. Jumlah kematian secara global tetap sama dengan minggu sebelumnya, sekitar 45.000.

Baca Juga: WHO Bilang Waspada, Kasus di Negara Ini Naik 8 Kali Lipat dalam Sepekan

Kasus COVID-19 yang dikonfirmasi melonjak sekitar 50% minggu sebelumnya, dan awal bulan ini, WHO melaporkan peningkatan satu minggu terbesar dalam kasus pandemi.

WHO mengatakan dalam laporannya yang dikeluarkan Selasa malam bahwa Asia Tenggara memiliki peningkatan terbesar dalam kasus virus corona pekan lalu, dengan jumlah orang yang baru terinfeksi melonjak sebesar 145%. Timur Tengah mengalami kenaikan mingguan 68%.

Peningkatan terkecil tercatat di Amerika dan Eropa, masing-masing sebesar 17% dan 10%. Para ilmuwan mengatakan pekan lalu ada tanda-tanda awal di AS dan Inggris bahwa wabah yang didorong oleh omicron mungkin telah memuncak di negara-negara itu dan bahwa kasus-kasus itu bisa segera turun tajam.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pada hari Selasa bahwa varian yang sangat menular itu “terus menyapu dunia.”

Dia mengatakan itu "menyesatkan" untuk menganggapnya sebagai penyebab penyakit ringan, meskipun penelitian menunjukkan omicron lebih kecil kemungkinannya menyebabkan penyakit parah atau rawat inap dibandingkan pendahulunya.

“Kami prihatin dengan dampak omicron pada petugas kesehatan yang sudah kelelahan dan sistem kesehatan yang terbebani,” kata Tedros, Kamis (20/1/2022).

Dia mengakui bahwa beberapa daerah tampaknya keluar dari gelombang omicron terbaru tetapi memperingatkan bahwa "belum semua negara keluar dari kesulitan."

Editor: Muhammad Syahrianto

Bagikan Artikel:

Video Pilihan