Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Amerika Gerah Saat Tahu Teknologi Rudal Hipersonik Rusia Jauh Lebih Unggul

Amerika Gerah Saat Tahu Teknologi Rudal Hipersonik Rusia Jauh Lebih Unggul Kredit Foto: Sputnik/Ildus Gilyazutdinov
Warta Ekonomi, Washington -

Tertinggal di belakang Rusia dalam mengembangkan senjata hipersonik, Angkatan Laut AS bergegas untuk meluncurkan yang pertama. Dilansir Associated Press pada Senin (21/3/2022), pemasangan di kapal perang dimulai paling cepat akhir tahun depan.

Amerika Serikat (AS) sedang berlomba dengan Rusia dan China untuk mengembangkan senjata ini, yang bergerak dengan kecepatan yang mirip dengan rudal balistik tetapi sulit untuk ditembak jatuh karena kemampuan manuvernya. Militer Rusia mengatakan telah mengerahkan rudal hipersonik.

Baca Juga: Penting Dipahami! Mengenal Rudal Hipersonik yang Dipakai Rusia untuk Bombardir Ukraina

Rusia mengklaim pada Sabtu dan Ahad telah mengerahkannya ke sasaran di Ukraina yang menandai penggunaan pertama senjata itu dalam pertempuran. Pentagon tidak dapat memastikan senjata hipersonik digunakan dalam serangan tersebut.

Militer Amerika mempercepat pembangunan untuk mengejar ketinggalan. Senjata AS akan diluncurkan seperti rudal balistik dan akan melepaskan kendaraan luncur hipersonik yang akan mencapai kecepatan tujuh hingga delapan kali lebih cepat daripada kecepatan suara sebelum mengenai sasaran.

Di Maine, anak perusahaan General Dynamics Bath Iron Works telah memulai pekerjaan rekayasa dan desain pada perubahan yang diperlukan untuk memasang sistem senjata pada tiga kapal perusak kelas Zumwalt.

Pekerjaan itu akan dimulai di galangan kapal yang belum diberi nama pada tahun fiskal yang dimulai pada Oktober 2023. Demikian kata Angkatan Laut.

Senjata hipersonik didefinisikan sebagai segala sesuatu yang bergerak di luar Mach 5, atau lima kali lebih cepat dari kecepatan suara. Kecepatan itu mencapai sekitar 3.800 mph (6.100 km/jam).

Rudal balistik antarbenua jauh melebihi ambang batas itu tetapi bergerak di jalur yang dapat diprediksi sehingga memungkinkan untuk mencegatnya. Sebaliknya, senjata hipersonik dapat bermanuver.

Sistem pertahanan rudal yang ada, termasuk sistem Aegis Angkatan Laut, akan mengalami kesulitan mencegat objek tersebut. Ini karena kemampuan manuver membuat gerakan mereka tidak dapat diprediksi dan kecepatan hanya menyisakan sedikit waktu untuk bereaksi.

Rusia mengatakan memiliki rudal balistik yang dapat menggunakan kendaraan luncur hipersonik serta rudal jelajah hipersonik.

"AS berusaha keras untuk mengejar ketinggalan karena gagal berinvestasi dalam teknologi baru, dengan hanya sebagian kecil dari 10 ribu orang yang mengerjakan program pada 1980-an," kata Senator Jim Cooper, seorang Demokrat Tennessee yang ketua dari subkomite yang memonitor program.

“Jika kita ingin mengejar kesetaraan, kita perlu mendukung upaya ini dengan lebih banyak uang, waktu, dan bakat daripada kita sekarang,” katanya.

Invasi Rusia ke Ukraina berfungsi sebagai latar belakang ketika Pentagon merilis proposal anggarannya yang menjabarkan tujuannya untuk hipersonik dan sistem senjata lainnya akhir bulan ini.

Tiga kapal perusak kelas Zumwalt siluman yang akan dilengkapi dengan senjata baru memiliki banyak ruang untuk menampung mereka — berkat kegagalan desain yang menguntungkan Angkatan Laut dalam hal ini.

Kapal-kapal itu dibangun di sekitar sistem senjata yang seharusnya menggunakan proyektil berpemandu GPS dan didorong roket untuk menghantam target 90 mil (145 kilometer) jauhnya.

Namun proyektil itu terbukti terlalu mahal dan Angkatan Laut membatalkan sistem tersebut, meninggalkan masing-masing kapal dengan sistem pemuatan yang tidak berguna dan sepasang senjata 155 mm yang tersembunyi di menara sudut.

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Editor: Muhammad Syahrianto

Bagikan Artikel:

Video Pilihan