Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Kekerasan di Tanah Papua Dinilai Masih Meningkat di Era Jokowi: Mohon Maaf, Cepat Sekali!

Kekerasan di Tanah Papua Dinilai Masih Meningkat di Era Jokowi: Mohon Maaf, Cepat Sekali! Kredit Foto: Instagram/Joko Widodo
Warta Ekonomi, Jakarta -

Majelis Rakyat Papua (MRP) menilai angka kekerasan hingga kematian di Bumi Cendrawasih masih meningkat di era Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

Ketua MRP Timotius Murib mengatakan, konflik di Papua memang sudah terjadi sejak era orde lama, orde baru, hingga reformasi, namun belakangan saat dipimpin Jokowi eskalasi kekerasan itu terus meningkat.

"Wah di era Jokowi ini, mohon maaf, lebih meningkatnya cepat sekali, seminggu bisa naik berapa persen, luar biasa kenaikan ekstensi kekerasan yang terjadi di tanah Papua," kata Timotius dalam jumpa pers, Kamis (21/4/2022).

Menurutnya, situasi ini sudah dibentuk terstruktur oleh negara. Bahkan ia menyebut ini upaya depopulasi orang-orang Papua.

Baca Juga: Tegas! Ketua Umum PB SEMMI Desak Jokowi Segera Copot Mendag Lutfi

"Kekerasan ini struktural dari negara, negara menggunakan alat negara untuk memburu warga negara, ini sudah keliru, kita mau selesaikan dengan moncong senjata, MRP berharap ada perbaikan oleh negara," ucapnya.

Selain itu, pembangunan Papua yang sering digaungkan Jokowi juga tidak berpihak kepada orang asli Papua karena tujuan pembangunannya hanya mengeruk sumber daya alam tanpa membangun sumber daya manusia lokal.

"Ini yang sedang terjadi di tanah Papua, pembangunan hari ini orientasinya bukan pembangunan manusia, tetapi pembangunan fisik dalam rangka mengeruk kekayaan alam di tanah Papua," imbuh Timotius.

Amnesty International Indonesia pernah mencatat bahwa ada 95 jiwa meninggal dunia dalam berbagai kasus dalam empat tahun terakhir di tanah Papua.

Pada tahun 2018 ada 12 kasus yang mengakibatkan 18 jiwa meninggal, tahun 2019 ada 16 kasus dengan 32 jiwa meninggal, tahun 2020 ada 19 kasus dengan 30 jiwa meninggal, dan tahun 2021 ada 11 kasus dengan 15 jiwa meninggal.

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Suara.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Suara.com.

Editor: Bayu Muhardianto

Bagikan Artikel:

Video Pilihan