Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Memberikan Dampak Sosial di Indonesia melalui Perbankan Digital

Memberikan Dampak Sosial di Indonesia melalui Perbankan Digital Kredit Foto: Amar Bank
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pandemi Covid-19 menjadi momentum percepatan transformasi digital di segala aspek kehidupan termasuk sektor jasa keuangan. Pergeseran perilaku masyarakat yang berorientasi pada teknologi dan digital menjadikan layanan keuangan  lebih cepat, efisien, aman, dan mudah diakses untuk  kebutuhan saat ini dan masa depan. Hal ini menjadi katalis utama bagi Unicorn untuk berkembang.

Laporan Global Unicorn Index 2021 oleh Hurun Research Institute menemukan bahwa solusi manajemen bisnis, layanan keuangan, dan sektor ritel paling terganggu oleh Unicorn. Fintech memimpin dengan 139 unicorn, diikuti oleh SaaS (Software as a Service) berjumlah 134, dan e-commerce 122.

Temuan ini juga tercermin di Indonesia, yang menempati peringkat ke-11 untuk negara di mana sebagian besar perusahaan unicorn berada. Akses masyarakat terhadap keuangan digital pun meningkat seiring dengan semakin banyaknya penyedia layanan digital dan fintech. Berdasarkan paparan dari Katadata, jumlah outstanding lending melalui fintech funding pada 2021 mencapai sekitar Rp30 triliun atau tumbuh 95%  dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pertumbuhan jumlah penyaluran kredit pada tahun 2021 juga jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya meningkat sebesar 16%.

Data ini menunjukkan bahwa Indonesia sudah berjalan dengan baik menuju transformasi digital layanan keuangan, dan semakin banyak pula pemain yang memenuhi kebutuhan publik akan layanan keuangan digital.

Vishal Tulsian, Presiden Direktur Amar Bank yang juga mendirikan Tunaiku, platform pinjaman digital berbasis aplikasi pertama di Indonesia, mengatakan bahwa ada tiga elemen penting dalam transformasi digital. Salah satunya adalah model bisnis itu sendiri, yang perlu menyajikan pengalaman nasabah yang sangat berbeda, termasuk tuntutan dan kebutuhan mereka, dibandingkan dengan layanan konvensional. Dua elemen lainnya adalah adopsi teknologi yang tepat berdasarkan perjalanan nasabah dan yang paling penting adalah pola pikir atau budaya organisasi. Baca Juga: Bukalapak Sulap Tekor Jadi Untung, Investor Senang Bukan Kepalang: Cuan, Cuan, Cuan!

“Kuncinya adalah berpikir dari sudut pandang nasabah. Misalnya, pola pikir di bank tradisional adalah mendirikan cabang agar nasabah bisa datang ke bank. Padahal, bank digital sebagai digital lender akan datang ke mana pun nasabahnya berada. Alih-alih menggunakan proses lama, dalam perjalanan digital Anda harus membayangkan kembali perjalanan nasabah. Jadi, itulah perubahan yang sangat besar di seluruh pola pikir organisasi dan hal tersebut membutuhkan waktu yang lama untuk dapat dilakukan di organisasi manapun,” jelas Vishal dalam Konferensi Data dan Ekonomi Katadata Indonesia 2022.

Amar Bank memulai perjalanannya di tahun 2014 dengan Tunaiku, dan telah melalui transformasi digital menjadi bank digital murni. Dalam perkembangannya, Amar Bank telah membangun infrastruktur TI kelas dunia yang menjadi tulang punggung untuk dapat menyediakan layanan digital. Menurut Vishal, ada empat hal tambahan yang dibutuhkan bank digital untuk menjadi yang terdepan, ia menyebutnya sebagai A-B-C-D Teknologi Informasi : A) Artificial Intelligence, B) Big Data, C) Cloud Computing, dan D) Data Analytics & Digital Decision Making.

“Ini adalah empat aspek yang menjadikan Amar Bank berada jauh di depan pemain mana pun di pasar saat ini. Setelah memulai dengan produk pinjaman, Amar Bank beruntung telah memiliki pengalaman bertahun-tahun dan kecakapan dalam menyalurkan pinjaman, yang mencakup penilaian risiko dan penjaminan. Ini keunggulan kami dibandingkan kompetitor,” kata Vishal.

Meningkatkan Inklusi Keuangan

Pemerintah Indonesia sedang menjadikan transformasi digital dalam sektor perekonomian, sebagai salah satu prioritas dalam agendanya pada G20 Presidency tahun 2022, khususnya untuk mendukung inklusi dan literasi keuangan. Merujuk survei Bank Dunia, indeks inklusi keuangan dunia pada tahun 2070 akan mencapai 68,52%, sementara di Indonesia saat ini masih di angka 48,86%.

Menanggapi hal ini, Vishal berkomentar, “Hingga hari ini, total ada sekitar 100 bank di Indonesia, dan mereka melayani puncak piramida penduduk yakni sekitar 40 hingga 50 juta orang. Sementara itu, sekitar 200 juta orang tidak memiliki rekening bank dan kurang terlayani. Jadi artinya 100 bank tersebut hanya bisa melayani 40 juta, tetapi kami memiliki target pasar 200 juta orang sisanya. Oleh karena itu, saya pikir Indonesia membutuhkan lebih banyak pemain untuk dapat meningkatkan inklusi keuangan. Di situlah kami sebagai bank digital yang dilengkapi dengan teknologi canggih seperti AI, Big Data, dan Predictive Analytics, dapat benar-benar memberikan dampak positif kepada masyarakat.”

Namun, mengembangkan bank digital bukan tanpa tantangan. Di Indonesia, Amar Bank melihat bahwa akuisisi nasabah menjadi tantangan terbesar saat ini. Dari perspektif inklusi keuangan, meyakinkan nasabah  mengapa mereka membutuhkan rekening bank digital adalah sebuah tantangan, karena beberapa dari mereka bahkan tidak menginginkan rekening bank tradisional.

Mengacu pada survei perbankan digital FICO tahun 2021, masyarakat Indonesia mengharapkan pengalaman perbankan yang mulus saat membuka rekening melalui aplikasi seluler atau situs web. Mereka memiliki harapan yang tinggi  untuk dapat menyelesaikan permohonan pembukaan rekening dalam 10 pertanyaan atau kurang. Jika tidak, 60% dari mereka akan meninggalkan prosesnya dan 25% bahkan akan keluar dari aplikasi atau situs web setelah lima pertanyaan.

“Pengalaman-pengalaman di masa lalu ini membuat mereka putus asa untuk mencoba lagi karena mereka tidak melihat adanya urgensi untuk membuat rekening bank,” tambah Vishal.

Sedangkan untuk tantangan ke depan, Amar Bank menyadari perlunya berhati-hati terkait konsep open banking. “Ini berarti siapa pun dapat mengambil nasabah Anda karena Anda harus berbagi data, dan Anda juga dapat mengambil dari orang lain. Dengan demikian, retensi nasabah  akan menjadi tantangan bagi semua pemain di masa depan,” jelas Vishal.

Memberikan  Dampak Sosial Melalui Teknologi

Dalam operasional dan tindakannya, Amar Bank mengusung filosofi bahwa teknologi harus meningkatkan kehidupan. “Misi kami adalah menyediakan perbankan bagi mereka yang membutuhkan dan tidak hanya bagi mereka yang menginginkan dan ini mengubah segalanya. Jadi saat target pasar kami berubah, strategi kami pun berubah. Kami tidak hanya hadir untuk menciptakan keuntungan yang lebih tinggi, tetapi juga untuk memberikan dampak sosial. Kenyamanan menjadi strategi dalam platform pinjaman digital, Tunaiku. Sementara dalam kasus Senyumku, strategi pembedanya adalah, personalisasi mikro, yang dapat membantu pelanggan membentuk kebiasaan finansial yang lebih baik,” tutup Vishal.

Tunaiku memberikan pinjaman tanpa agunan (KTA) kepada perorangan dan UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) yang diproses dan disetujui dalam waktu 24 jam dengan memanfaatkan teknologi big data dan predictive analytics. Tunaiku telah diunduh lebih dari 9 juta kali, dan menyalurkan lebih dari 800.000 pinjaman. Sejak diluncurkan pada tahun 2014, Tunaiku telah menyalurkan lebih dari Rp 6,6 triliun kepada masyarakat dan pengusaha mikro, yang sebagian besar unbanked dan underserved.

Melalui Senyumku, Amar Bank menawarkan layanan perbankan yang terpersonalisasi untuk dapat memahami perilaku dan kebiasaan menabung nasabah yang disesuaikan dengan kehidupan sehari-hari mereka untuk mencapai kesehatan finansial yang lebih baik.

Baca Juga: Pendapatan Asuransi Jiwa Capai Rp 164,55 Triliun, Turun 4% di Kuartal III 2022

Editor: Lestari Ningsih

Advertisement

Bagikan Artikel: