Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Taliban Beri Kabar Gembira, Tapi Tidak untuk Wanita Nakal

Taliban Beri Kabar Gembira, Tapi Tidak untuk Wanita Nakal Kredit Foto: Reuters/Francois Lenoir
Warta Ekonomi, Kabul -

Taliban memberikan kabar baik menjanjikan anak perempuan Afghanistan bisa kembali ke sekolah. 

Namun, pejabat senior kelompok itu mengatakan bahwa mereka yang memprotes pembatasan rezim terhadap hak-hak perempuan harus tinggal di rumah.

Baca Juga: Dinilai Sesatkan Generasi Muda, Taliban Larang TikTok dan PUBG

“Kami menahan wanita nakal di rumah,” kata penjabat menteri dalam negeri Afghanistan Sirajuddin Haqqani dalam sebuah wawancara dengan CNN, Senin (16/5/2022).

Sirajuddin membuat komentar sambil tertawa, lalu menjelaskan apa yang dia maksud dengan kalimat itu. 

"Wanita nakal, itu adalah lelucon yang mengacu pada wanita nakal yang dikendalikan oleh beberapa pihak lain untuk mempertanyakan pemerintahan saat ini,” katanya.

Dalam wawancara yang sama pada, wakil pemimpin Taliban telah berjanji bahwa anak perempuan akan segera diizinkan untuk belajar di sekolah.

Dia mengatakan, pekerjaan berlanjut pada mekanisme untuk memungkinkan anak perempuan bersekolah di sekolah menengah.

"Segera Anda akan mendengar kabar baik tentang masalah ini," tambah Haqqani dalam wawancara pertamanya di televisi itu.

Mekanisme, menurut Haqqani, dikaitkan dengan aturan berpakaian sekolah, menjelaskan bahwa pendidikan harus didasarkan pada "budaya" Afghanistan dan "aturan dan prinsip Islam".

Dalam sebuah dekrit baru-baru ini, rezim Taliban melarang siswa perempuan di atas kelas enam untuk berpartisipasi di kelas mereka. 

Gadis-gadis itu selanjutnya disuruh tinggal di rumah sampai Imarah Islam mengumumkan keputusan selanjutnya.

Haqqani juga mengatakan bahwa rezim Taliban sedang mencari "hubungan baik dengan AS dan komunitas internasional."

Menanggapi pertanyaan apakah pasukannya masih menganggap AS sebagai musuh, mengatakan bahwa mereka tidak "melihat mereka (AS) sebagai musuh".

“Kami berkomitmen pada perjanjian Doha, dan menginginkan hubungan dengan AS berdasarkan prinsip dan norma diplomatik,” tegas dia.

Taliban menguasai Afghanistan setelah penarikan pasukan Amerika pada Agustus tahun lalu.

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan GenPI. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab GenPI.

Editor: Muhammad Syahrianto

Tag Terkait:

Bagikan Artikel:

Video Pilihan