Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Taliban Nyatanya Makin Keras, Perempuan Afghanistan Sampai Lakukan Aksi Begini

Taliban Nyatanya Makin Keras, Perempuan Afghanistan Sampai Lakukan Aksi Begini Kredit Foto: Reuters/Francois Lenoir
Warta Ekonomi, Kabul -

Perempuan Afghanistan menggelar protes pada Minggu (29/5/2022) lalu untuk menuntut kebebasan. Banyak dari mereka yang meneriakkan "roti, pekerjaan, dan kebebasan" dalam aksi protes mereka untuk menentang pembatasan keras Taliban terhadap hak-hak mereka.

Sejak merebut kekuasaan pada Agustus tahun lalu, Taliban telah mengembalikan keuntungan marginal yang dibuat oleh perempuan selama dua dekade intervensi AS di Afghanistan.

Baca Juga: Banyak yang Tanya, Kenapa UAS Tak Pergi Liburan ke Suriah dan Afghanistan Saja?

"Pendidikan adalah hak saya! Buka kembali sekolah!" teriak para pengunjuk rasa, dilansir dari Alarabiya, Selasa (31/5/2022).

Banyak dari wanita-wanita itu mengenakan cadar saat mereka berkumpul di depan kementerian pendidikan.

Mereka berharap suara-suara teriakannya ini dapat mewakili seluruh wanita Afghanistan yang ingin kembali mendapatkan hak-haknya yang dirampas oleh Taliban dengan mengatasnamakan agama.

Peserta demonstran berbaris beberapa ratus meter sebelum mereka terusir. Pihak berwenang mengerahkan pejuang Taliban dengan pakaian biasa untuk mengakhiri aksi unjuk rasa tersebut.

Pada awal pemerintahan, Taliban mengklaim bahwa kekuasaannya tidak akan sama dengan pendahulunya. Mereka menyatakan akan membebaskan wanita untuk mengakses pendidikan, meskipun pada kenyataannya hal itu tidak pernah terwujud.

Wanita-wanita di Afghanistan hanya diizinkan mengenyam pendidikan sekolah dasar. Sedangkan untuk sekolah menengah dan lanjutan hanya bisa diakses oleh anak laki-laki.

Pemerintah Taliban bahkan melarang wanita bekerja dan bepergian tanpa mahram. Tentu saja hal ini sangat menyulitkan mereka untuk mencari nafkah.

Ekonomi Afghanistan yang diambang kehancuran, membuat masyarakatnya semakin kesulitan. Tidak sedikit, orang tua yang menikahkan anak-anak perempuan mereka yang masih dibawah umur menikah dengan seorang laki-laki yang sudah berumur bahkan usia lanjut.

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Editor: Muhammad Syahrianto

Tag Terkait:

Bagikan Artikel:

Video Pilihan